ASAL USUL DAERAH-DAERAH SEKITAR MAJALENGKA

1. ASAL-USUL LEUWIHIEUM

Asal – usul Dusun Leuwihieum masih misteri. Sampai saat ini pun kebenarannya belum pasti. Tapi menurut sesepuh setempat, Dusun Leuwihieum itu dahulunya merupakan sebuah hutan yang kaya akan sumber daya alam. Sehingga datanglah para pendatang yang bertujuan untuk memanfaatkan SDA dan membuat sebuah perkampungan.

Beberapa tahun kemudian, perkampungan tanpa nama itu (yang sekarang Dusun Leuwihieum) penduduknya semakin banyak. Walaupun demikian, perkampungan itu masih saja belum diberi nama dan belum memiliki seorang pemimpin.
Terceritakan pada suatu hari datanglah seorang Raja yang berkunjung ke perkampungan itu. Beliau bernama Raja Kanjeng Dalem Sumedang. Kedatangan Raja itu disambut meriah oleh penduduk di perkampungan itu. Lalu Raja pun ingin mengadakan sebuah pesta di perkampungan untuk merayakan kedatangannya.

Malam hari, saat semua penduduk sibuk dengan persiapan pesta, Raja tertidur pulas. Beliau pun bermimpi, kedatangan seorang kakek – kakek yang mengatakan bahwa Raja harus mengadakan pesta di sebuah Gunung di tengah Kali Cilutung (sekarang disebut Pasir Ngambang). Setelah berkata demikian kakek itu pun menghilang. Saking terkejutnya, Raja pun terbangun.
Keesokan harinya, Raja mengumumkan bahwa pesta akan dipindahkan ke Gunung di tengah Kali Cilutung. Pada dasarnya penduduk heran dan menentang keinginan Raja, tapi akhirnya mereka menyetujuinya.

Saat pesta dimulai secara simbolis, Raja melemparkan keris kedalam air yang dalam ( dalam bahasa sunda itu Leuwi ). Lalu terbentuklah nama Leuwi Keris untuk memperingati kejadian itu.

Banyak sekali penduduk yang menghadiri pesta itu, sehingga pesta berjalan dengan meriah. Tanpa terasa hari sudah larut, penduduk pun pulang ke rumah masing – masing. Raja merasa senang akan pestanya, lalu Raja pun pulang dan beristirahat.

Selama beberapa hari Raja tinggal di perkampungan itu. Hingga pada suatu hari beliau teringat akan pekerjaannya di Kabupaten. Akhirnya beliau memutuskan untuk pulang, lalu beliau berpamitan kepada para penduduk.

Sebelum pergi, seorang penduduk menanyakan kepada Raja tentang nama dan kepemimpinan perkampungan itu. Raja bingung, beliau menganggap perkampungan itu sudah diberi nama dan kepemimpinannya sudah jelas. Raja pun berasumsi, bahwa perkampungan ini dikelilingi oleh Kali Cilutung yang memiliki kedalaman air yang dalam dan tertutupi oleh pepohonan. Lalu raja pun memberi nama perkampungan itu LEUWIHIEUM, yang artinya Leuwi = Air yang dalam dan Hieum = tempat teduh dan gelap.

Tentang masalah kepemimpinan, Raja berpendapat bahwa yang seharusnya memimpin adalah orang yang terpercaya dan memiliki budi pekerti yang luhur menurut keinginan rakyat. Akhirnya penduduk pun memilih Bapak Anteng karena menurut mereka Bapak Anteng adalah orang yang dimaksud oleh Raja. Kejadian itu terjadi pada tahun 1800.
Setelah nama dan kepemimpinan sudah jelas, Raja pun pulang ke Kabupaten. Kepergian Raja sangat disayangkan oleh penduduk karena selain Raja baik hati, Raja juga sangat ramah kepada semua penduduk. Walaupun mereka sedih, tapi mereka senang karena telah memiliki pemimpin yang teladan.

Demikian asal – usul Dusun Leuwihieum, walaupun belum pasti tapi tempat - tempat sejarah yang ada di cerita itu masih ada sampai sekarang.

2. Asal Muasal Desa Tegalaren

Asal muasal Desa Tegalaren yaitu berasal dari kata Tegaliren, yang berarti tempat peristirahatan orang-orang Belanda. Asal mulanya yaitu pada zaman Belanda, pada waktu itu orang-orang kolonial berangkat dari pos penjagaan yang sampai sekarang namanya menjadi desa Sindangwasa.

Kemudian mereka melanjutkan perjalananya menyebrangi sungai Cikeruh yang kemudian sampai sekarang di beri nama kampung Peuntas. Lalu mereka melanjutkan perjalanannya menuju Batavia, lama mereka berjalan dan lama kelamaan mereka pun kelelahan serta beristirahat di suatu tempat yang teduh dan rindang yang kebetulan tempat itu banyak sekali poho aren. Kata tempat yang disebut juga dengan kata tegal, kemudian ada salah seorang dari mereka yang menyebut tegaliren yang berarti tempat peristirahatan yang penuh dengan pohon aren kata tegaliren berasal dari bahasa jawa.

Lebih jelasnya Tegaliren berasal dari dua kata yaitu tegal dan aren; tegal yang berarti tempat peristirahatan dan aren adalah nama pohon yang ada di tempat itu yaitu pohon aren. Dan sampai sekarang nama tempat itu menjadi Tegalaren. Tegalaren sampai sekarang ini menjadi nama sebuah desa yaitu Tegalaren yang berarti tempat peristirahatan orang orang Belanda yang penuh dengan pohon aren.

Yang Ditakuti Kaum Wanita
Ada seorang direktur perusahaan yang sedang duduk di meja tulis kantornya, tiba-tiba saja telepon yang ada di dekatnya itu berdering.kemudian diangkat dan ternyata yang menelpon itu adalah istrinya di rumah.tetapi sebelum terdengar sepatah katapun istrinya menjerit ketakutan dan setelah mendengar jeritannya itu si direktur tidak mendengar suara apapun sehingga membuatnya panik dan langsung saja menghubungi kantor polisi..Beberapa lama kemudian satu regu polisi bersenjata dikerahkan untuk mengepung rumahnya dan setibanya di rumah itu polisi segera masuk dengan membawa senjata kemudian mereka menemukan wanita itu tergeletak di lantai dalam keadaan tidak sadarkan diri dan gagang telpon tergantung di meja,.tidak lama kemudian istri direktur itu siuman dan polisi menanyakan peristiwa yang baru saja terjadi. Lalu wanita itu menjawab bahwa dirinya telah diserang dah penyerangnya itu mungkin bersembunyi di dalam rumah kemudian dia mendekati saya, pada saat saya sedang menelpon, setelah mendengar apa yang di katakana wanita itu maka kemudian polisi itu langsung bertanya lagi: ”tolong jelaskan cirri-cirinya”. Istri direktur itu menjawab: ”cirri-cirinya sama seperti tikus-tikus pada umumnya .”

Kantong Rahasia
Pada suatu ketika, ada seorang pergi ke tukang jahit untuk menjahitkan pakaiannya, lalu tukang jahit bertanya : ”apakah anda sudah memiliki istri?” Ssseorang itu menjawab: ”ya”. Mendengar jawaban orang itu ,si tukang jahit langsung berkata :”kalau begitu di sebelah mana kiranya aku harus membuatkan sebuah kantong rahasi?”.

3. ASAL MULA DESA LEBAKSIUH

Dahulu kala disebuah dusun hiduplah sepasang keluarga yang serba sederhana sekali dalam kehidupannya, tetapi meskipun demikian adanya mereka tetap hidup rukun, damai dan saling menyayangi.

Menurut cerita, sepasang keluarga itu adalah pendatang secara tiba-tiba atau mungkin secara kebetulan saja datang ke tempat itu, entah dari mana asal mulanya orang tersebut berada, sebab menurut cerita pada waktu itu dusun tersebut belum berpenghuni sama sekali, dan kemungkinan besar beliau adalah orang kali pertama yang datang dan menghuni dusun itu sampai akhir hayatnya.

Konon menurut cerita, sepasang keluarga itu bernama Ki Buyut dan Istrinya Nyi Mayang dan menurut cerita pula dari orang-orang dan tokoh-tokoh masyarakat setempat bahwa Ki Buyut dan Nyi Mayang adalah sepasang keluarga yang mempunyai ilmu yang cukup tinggi, mereka disegani, dihormati oleh masyarakat setempat, tetapi meskipun mereka mempunyai ilmu tinggi mereka tidak sombong, bahkan mereka sering menolong orang yang membutuhkannya. Maka disitulah awal nama dusun Lebaksiuh mulai di ketahui atau dikenal oleh masyarakat disekitarnya.

Nama Lebaksiuh diambil dari kata lebak artinya, semacam sungai kecil atau kali yang berada di daerah setempat yang keberadaan airnya jernih, bersih belum tercemar sama sekali, sedangkan kata siuh semacam tumbuhan belukar yang hidup dan tumbuh di pinggir sungai atau kali yang berada di daerah setempat. Memang tumbuhan belukar sekarang ini sangat jarang ditemukan, dan kata masyarakat setempat belukar ini atau areuy dalam bahasa sunda sangat kuat sekali kalau dibuat tali-tali, sangat sulit untuk memutuskannya. Tumbuhan belukar itu tumbuh di pinggiran sungai Cipaingeun yang berada di daerah Lebaksiuh, hulu sungai Cipangeun berasal dari daerah Garut.
Jadi kalau di artikan nama Lebaksiuh berarti sebuah dusun yang berada dipinggiran sungai yang mengelilingi tempat tersebut, dan dulunya tempat itu banyak tumbuh semak belukar atau areuy siuh dan sekarang belukar siuh itu dijadikan simbol bahwa kehidupan masyarakat Lebaksiuh rukun dan damai dalam satu ikatan dan rasa gotong royongnya yang sangat kuat serta adat budayanya yang sangat kuat pula.

Sejalan dengan perkembangan jaman dusun Lebaksiuh cepat sekali mengalami perubahan-perubahan, semula yang tinggal menempati dusun itu hanya sepsang keluarga yaitu Ki Buyut dan Nyi Mayang yang konon katanya masyarakat setempat yang pertama kali memberi nama Lebaksiuh dan nama-nama lain yang berada di daerah lebaksiuh, kemudian mulai di bangun di dusun Lebaksiuh maka jadilah sebuah perkampungan meskipun letak dari rumah ke rumah yang lain masih berjauhan dan berpencilan mulai dari yang jaraknya ratusan meter sampai dengan kiloan meter. Karena dusun Lebaksiuh pada waktu itu cukup luas lingkungannya dan banyak pohon-pohon besar yang tumbuh di dusun Lebaksiuh.

Kehidupan masyarakat Lebaksiuh pada waktu itu kebanyakan bermatapencaharian bertani dan bercocok tanam dan ada juga yang memelihara hewan ternak seperti kerbau, sapi, biri-biri, kambing dan ayam, karena dengan kesuburan tanahnya banyak rerumputan untuk pakan sapi, kerbau serta kambing, hidup mereka cukup makmur. Hasil panennya selalu berlimpah mulai dari padi sampai palawija, bahkan buah-buahan, apalagi sekarang sudah terkenal dengan penghasilan mangga gedongnya yang pemasarannya sampai ke luar negeri.

Seperti yang telah dibicarakan di atas bahwa Dusun Lebaksiuh mengalami cepat dalam perubahan jaman dan sekarang sudah terbentuklah sebuah desa. Karena perkembangan pendidikannya yang cukup pesat, pemikiran untuk menjadi kepala desa di Dusun Lebaksiuh jaman dulu sangat berbeda dengan jaman sekarang, yang mana orang yang menjadi seorang pemimpin ditunjuk langsung oleh masyarakat malalui para tokoh-tokoh masyarakat dan menurut cerita yang kami himpun di Desa Lebaksiuh sudah mengalami beberapa kepemimpinan kepala desa dari lamanya kepemimpinan tidak ditentukan seperi jaman sekarang ini yaitu lima tahun atau delapan tahun, tetapi kadang-kadang sampai seuimur hidup atau semaunya, tergantung dibutuhkan tidaknya lagi masyarakat setempat.
Di Desa Lebaksiuh terdiri dari tujuh dusun pada waktu itu yakni Dusun Lebaksiuh, Dusun Leuwihieum, Dusun Babakan, Dusun Cibeber, Dusun Ciluwuk, dan Dusun Telaga Datar serta Dusun Legok.

Tokoh-tokoh yang pernah menjadi kepala desa Lebaksiuh yaitu:
1. Masa kepemimpinan Bapak Ateng lamanya seumur hidup.
2. Masa kepemimpinan Bapak Eyang lama kepemimpinannya dua puluh tahunan.
3. Masa kepemimpinan Bapak Dirja lama kepemimpinannya delapan tahun.
4. Masa kepemimpinan Bapak Sukria lama kepemimpinannya dua belas tahun.
5. Masa kepemimpinan Bapak Sukri lama kepemimpinannya delapan tahun.
6. Masa kepemimpinan Bapak Unuk lama kepemimpinannya delapan tahun.
7. Masa kepemimpinan Bapak Adjep lama kepemimpinannya delapan tahun.
8. Masa kepemimpinan Bapak Dirta lama kepemimpinannya delapan tahun.
9. Masa kepemimpinan Bapak Carya lama kepemimpinannya enam tahun.

Dan yang sedang berjalan masa kepemimpinan Bapak Carya lagi beliau menjalani kepemimpinan dua periode.

Desa Lebaksiuh sekarang mengalami pemekaran yaitu dengan desa baru namanya Desa Candrajaya, adapun Dusun-nya yaitu: Dusun Cibeber, Dusun Legok, Dusun Talaga Datar dan Dusun Ciluwuk.

Demikianlah sekilas asal mula Desa Lebak Siuh dari jaman dulu sampai sekarang yang selalu tetap dalam rukun dan cinta damai serta tanahnya yang subur. Dan untuk mengenang para leluhur Desa Lebaksiuh disana ada makam keramat Embah Buyut sampai sekarang masih banyak dikunjungi orang-orang dari luar untuk sekedar jiarah ke makam Embah Buyut, karena mnurut cerita orang-orang yang pernah jiarah ke makan Embah Buyut segala maksud dan tujuan capat tercapai, benar atau tidaknya Wallahualam, hanya Tuhan-lah yang Maha Tahu Segalanya.

4. ASAL NAMA DESA PALASAH

Desa Palasah diambil dari nama pohon yang banyak tumbuh di pemukiman penduduk, nama pohon tersebut namanya pohon PALASAH, pohon tersebut banyak tumbuh di pemikiman masyarakat dan di hutan-hutan lindung yang berada di wilayah desa kami pada waktu dulunya.

Pohon Palasah tersebut sangat banyak sekali manfaatnya untuk kehidupan masyarakat desa kami pada waktu itu, daunnya disamping untuk sarana pembungkus makanan warga, warga juga menjual daun tersebut ke kota (kongsi) Kadipaten dan hasilnya untuk menambah-nambah kebutuhan dapur. Sedangkan pohonnya, masyarakat kami menggunakan pohon tersebut untuk tiang-tiang penyangga rumah dan untuk kayu bakar.
Mengingat banyak sekali tumbuh pohon tersebut dan manfaatnya sangat berarti bagi warga masyarakat maka para leluhur kami menamai desa kami dengan DESA PALASAH.
Agar supaya warga masyarakat kami bisa tumbuh subur guna kehidupan yang lebih maju baik sandang maupun pangan.

5. “ ASAL USUL DESA CIBENTAR “

Sekitar akhir abad ke-18, yaitu tepatnya tahun 1788 terbentuklah kampung bernama kampung BABAKAN.Kampung ini merupakan cantilan dari Desa SUKARAJA,Kampung Babakan pada waktu itu dipimpin oleh Raksa Perbanta.

Asal Kata Cibentar
Banyak yang menyebutkan bahwa Desa Cibentar berasal dari kata “Air/Cai” dan kata “Halilintar.Tetapi menurut kehendak Raksa Parbanta bahwa dalam pembuata saluran air itu hendaknya para tokoh/sesepuh dapat menggerahkan segala kesaktiannya,maka dengan segala penuh rasa tanggung jawab,para tokoh tersebut melaksanakannya dengan segala kemampuan & kesaktiannya masing-masing,seperti Embah Dati,dengan kesaktiannya,ia membuat keajaiban kencing di ujung untun memulai pembuatan saluran air yang direncanakan sehingga air kencingnya mengalir bulak-belok kea rah utara Embah Maranggi,dengan kesaktiannya ia bisa mendatangkan angin yang sangat kencana. Embah Modang,dengan kesaktiannya,ia dapat mendatangkan petir/geledek yang besar. Sedangkan Embah-embah yang lainnya,dengan kesaktiannya masing-masing dapat mengeluarkan tenaga yang cukup besar,sehingga mereka dapat membereskan pohon-pohon yang tumbang dan batu-batu yang berantakan guna terbentuknya saluran air.Pembuat saluran air tersebut sepanjang 300M yang dapat diselesaikan dalam waktu hanya satu hari satu malam.

Karena pembuatan saluran air itu dapat diselesaikan dalam waktu yang sebentar dan air langsung mengalir,maka pada waktu itu, mereka mengambil dari kata Cai/Aia dan kata Sebentar.Dari kedua kata tersebut,akhirnya digabungkan menjadi nama sebuah Desa.Dari sejak tahun itu pula,Desa Cibentar berlaku sebagai suata desa dari Kec.Jatiwangi dan sejak itu kampung Babakan memisahkan diri dari Desa Sukaraja dan menjadi cantilan dari Desa Cibentar.

6. ASAL USUL MAJALENGKA

1. Pohon "Maja" Jadi "Lantaran"
Alkisah diceritakan kira - kira pada abad ke 15 Masehi berdirilah suatu kerajaan Hindu yang disebut SINDANGKASIH ( kini hanya sebuah desa yang terletak di sebelah tenggara ibu kota Majalengka jarak 3 Km di luar kota).
Kerajaan itu diperintah oleh seorang ratu yang cantik molek dan sangat sakti serta fanatik terhadap agama yang dipeluknya. Namanya ialah Ratu Nyi Rambutkasih. Berkat ratu yang bijaksana dan sakti itu, maka kerajaan Sindangkasih menjadi daerah yang aman dan makmur.

Rakyatnya hidup tentram damai dan aman sentosa, "rea ketan rea keton", karena begitu sejahtera dan bahagianya sehingga Sindangkasih mendapat gelar Sugih Mukti yang artinya "Kaya serta bahagia".

Penghidupan rakyatnya terdiri dari bercocok tanam, terutama padi sedang pakaiannya menenun sendiri dari hasil kapas tanamannya. Di lembah - lembah sungai ditanami tebu yang dibuat gula merah disamping gula dari pohon aren. Sebagian daerahnya terdiri dari hutan rimaba yang membujur ke arah utara dan selatan. Konon kabarnya dalam hutan itu bukan pohon kayu jati yang banyak, tetapi penuh dengan pohon maja. Batangnya lurus dan tinggi, tetapi daunnya kecil dan pahit dan mempunyai khasiat untuk mengobati penyakit demam. Buahnya mirip buah "Kawista", tetapi kulitnya agak lunak, isinya serasa ubi jalar yang dibakar.

Sementara itu antara 1552 - 1570 Cirebon telah diperintah oleh seorang Guru Besar Islam yaitu seorang wali bernama Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Konon Cirebon pernah terserang penyakit demam yang sangat hebat dan menimbulkan banyak korban. Lalu Sunan Gunung Jati mengutus putranya yang bernama Pangeran Muhammad untuk pergi mencari pohon maja ke daerah Sindangkasih sekaligus menyebarkan agama Islam.

Pangeran Muhammad berangkat menuju Sindangkasih disertai isterinya yang bernama Siti Armilah yang berasal dari Demak yang juga diberi tugas untuk membantu suaminya dan ikut menyebarkan agama Islam.

Nyi Rambutkasih sebagai ratu Sindangkasih yang telah mengetahui kedatangan utusan Sunan Gunung Jati itu, hatinya tidak ikhlas daerahnya diinjak oleh orang lain yang memeluk agama Islam. Konon kabarnya sebelum Pangeran Muhammad bertemu dengan nyi Rambutkasih, hutan Sindangkasih yang awalnya banyak pohon maja telah diubah menjadi hutan lebat tanpa pohon maja sebatangpun.

Pangeran Muhammad dan isterinya sangat kecewa dan terkejut ketika tiba di Sindangkasih, pohon maja yang diperlukannya sudah tidak ada. Maka, pada saat itu Pangeran Muhammad berkata "Maja Langka" (bahasa Jawa) artinya "Maja tidak ada".
Dengan demikian, Pangeran Muhammad sangat kecewa dan berniat akan kembali ke Cirebon. Akhirnya Pangeran Muhammad memutuskan pergi bertapa di kaki gunung hingga wafatnya. Gunung itu kini bernama "Margatapa".

Sebelum pergi bertapa, Pangeran Muhammad memberi amanat kepada isterinya, untuk terus berusaha menemukan pohon maja itu dan menaklukan Nyi Rambutkasih agar memeluk agama Islam.

Pada suatu hari, Siti Armilah yang merupakan pemeluk dan penyebar agama Islam bisa bertemu dengan Nyi Rambutkasih yang merupakan pemeluk dan Fanatik terhadap agama Hindu.

Nyi Rambutkasih tidak dapat menerima ajakan dan ajaran yang diberikan Siti Armilah supaya Nyi Rambutkasih memeluk agama Islam. Siti Armilah pun berkata : "Manusia itu pasti mati, kembali ke alam baqa, hidup di dunia ini ada batasnya".
Nyi Rambutkasih membalasnya dengan ucapan: "Aku seorang Ratu pelindung rakyat yang berlaku jujur dan baik, sebaliknya aku adalah Ratu yang tidak pernah ragu - ragu untuk menghukum rakyatnya yang bertindak curang dan buruk. Karena itu aku tidak akan mati dan tidak mau mati".

Siti Armilah menjawab: "Jika demikian halnya, makhluk apakah gerangan namanya yang tidak akan mati dan tidak mau mati?".
Bersamaan dengan ucapan Siti Armilah tersebut, lenyaplah diri Nyi Rambutkasih itu dari dunia yang fana ini tanpa meninggalkan bekas.
Orang jaman sekarang hanya bisa mendapatkan beberapa peninggalan bekas Nyi Rambutkasih semasa memerintah dahulu.

Selanjutnya Siti Armilah menetap di kerajaan Sindangkasih ini dan menyebarkan agama Islam sampai wafat. Jenazahnya dimakamkan di pinggir kali Citangkurak, yang tumbuh pohon "BADORI" sesuai dengan amanatnya, bahwa telah ditegaskan, bahwa dikemudian hari dekat kuburannya akan menjadi tempat tinggal penguasa pemerintah Majalengka.
Kini makam Siti Armilah terletak di belakang gedung Kabupaten Majalengka yang sekarang dan orang sering menamakan Emah Gedeng Badori.
Setelah peristiwa menghilangnya Nyi Rambutkasih, maka banyak penebar agama Islam dari daerah Cirebon dan Mataram datang ke daerah kerajaan Sindangkasih yang telah berganti nama menjadi Majalengka itu.

Cerita menghilangnya Nyi Rambutkasih menjadi legenda bagi rakyat aseli Majalengka, dan terhadap kesaktiannya merupakan suatu mitos yang masih melekat dengan kuat.
Hal ini diakibatkan karena seringnya ada orang yang bertemu dengan seseoran berwujud wanita yang tidak tahu berasal dari mana asalnya dan menamakan dirinya sebagai Nyi Rambutkasih, sehingga orang yang bertemua dengannya menjadi gila. Menurut kepercayaannya karena diganggu oleh roh Nyi Rambutkasih.

Dibalik peristiwa itu semua, rakyat Majalengka mempunyai kepercayaan bahwa Nyi Rambutkasih akan menjaga Majalengka bila rakyat Majalengka tetap berlaku baik dan jujur. Namun apabila tidak, Nyi Rambutkasih akan murka dan akan menimbulkan malapetaka. Wallohualam bisawab.

2. Ingat Akan Asal Permulaan Pencegah Perang Saudara
Menurut ceritera, pada waktu Kerajaan Galuh masih menganut agama Budha, katanya putera Raja yang tertua telah masuk Islam dan menjadi murid Sunan Gunung Jati di Cirebon. Menurut Riwayat ia bernama Sunan Undung dan disuruh menyebarkan agama Islam di sebelah barat daya.

Di antara tugas itu adalah mengajak adiknya di kerajaan Galuh yang masih beragama Budha.

Kedua saudara kandung yang berbeda agama pun bertemu di suatu tempat di hutan Sindangkasih yang kini disebut GIRILAWUNGAN yang artinya tempat bertemu.
Masing - masing putra Galuh itu mempertahankan keyakinannya sehingga pertarungan yang merupakan perang saudara bisa terjadi kapan saja.Ketika mereka sedang bertengkar,mereka ingat pada "PURWADAKSINA", yaitu ingat kepada asal, bahwa mereka berdua adalah saudara yang berasal dari satu keturunan, sama - sama putera raja Galuh. Setelah mereka ingat hal itu, mereka menjadi damai kembali. Mereka sadar tak ada manfaatnya mempertengkarkan agama.

Sambil berpisah mereka mengeluarkan kata - kata madia lengka yang artinya di tengah - tengah eling kepada asal permulaan.
Demikian "MADIA-LENGKA" berubah menjadi Majalengka. Wallohualam.

3. "Langkah" Siti Armilah
Ketika Pangeran Muhammad beserta isterinya melaksanakan amanat Sunan Gunung Jati untuk mencari pohon maja di Sindangkasih dan mengajak Nyi Rambutkasih memeluk Islam, maka ada sebagian orang yang menceritakan asal mula Majalengka berlainan.
Pangeran Muhammad dan Siti Armilah telah sampai di daerah hutan Sindangkasih yang penuh dengan pohon maja. Tempat mereka pertama kali menemukan pohon maja dinamai Maja yang sekarang menjadi kecamatan Maja. Lalu Siti Armilah mendapat amanat dari suaminya untuk mengajak Nyi Rambutkasih untuk memeluk agama Islam.
Untuk memudahkan perjalanan dengan menempuh hutan Siti Armilah diberi seekor ayam beranama si Jalak Harupat oleh suaminya. Kemana ayam jantan itu pergi, harus diikuti jejaknya hingga ia berkokok.

Kokok ayam tadi itu akan menandakan bahwa tempat yang dituju telah tercapai. Lalu si Jalak Harupat dilepaskan dan jejaknya diikuti dengan langkah - langkah Siti Armilah. Akhirnya si Jalak Harupat berkokok di suatu tempat yang dituju yaitu tempat yang sekarang menjadi kota Majalengka.

Pada saat itu Siti Armilah memberi nama tempat itu bukan Sindangkasih melainkan "Maja alengka" sebagai peringatan baginya yang mula - mula dari maja melangkahkan kakinya sampai di tempat yang dituju. Wallohualam.

4. Antara Ada Dan Tiada
Ada pula ceritera yang meriwayatkan terjadinya Majalengka itu berbeda lagi. Pengaruh kekuasaan Sultan Agung Mataram ternyata meluas ke arah Barat, maksudnya pulau Jawa sebelah barat.Dikisahkan ada seseorang yang bernama Sunan Jebug yang tidak mau tunduk kepada kekuasaan Mataram dan ia tetap mempertahankan daerahnya (sekarang Majalengka) bebas dari penguasaan Sultan Agung Mataram yang mengakibatkan marah Sultan. Lalu Sulatan mengirimkan 40 orang hulubalang untuk merebut daerah Sunan Jebug. Melihat gelagat tidak enak itu, Sunan Jebug dengan senopatinya yang bernama Endang Capang untuk menghindari pertempuran dan pertumpahan darah.
Sebelum 40 hulubalang datang dari Mataram tiba di daerahnya, maka Sunan Jebug dan Endang Capang bersembunyi dan hanya meninggalkan petilasan saja. Ketika pasukan Hulubalang Mataram tiba,tak ada seorangpun yang dapat menemukan Sunan Jebug dan Senopati Endang Capang. Akhirnya seorang hulubalang bernama Mangkunegara, berseru: "Madia Langka". Antara ada dan Tiada. Dikatakan tiada karena memang tidak ditemukan, dikatakan ada karena ada petilasannya. Demikianlah dari Madia Langka berubah menjadi Majalengka

5. Negara "Tengah"
Rakyat Pulau Jawa umumnya mengetahui bahwa dahulu kala orang menyebut "Buana Panca Tengah" yang dimaksudkan ialah Indonesia sekarang khususnya Pulau Jawa. Dihubungkanya dengan ceritera Ramayana dan kerajaan Alengka yang diartikan negara. Adapun Maja diartikan Madia bukan nama pohon tetapi tengah. Kata "tengah" ditinjau dari segi - segi:
a. Ilmu Bumi : Letak daerah Majalengka ini berada di tengah - tengah antara pegunungan dan pedaratan.
b. Pemerintahan : Terletak di tengah - tengah kekuasaan Islam (Cirebon/Mataram) dan Hindu/Budha (Galuh-Pajajaran)
c. Ilmu bangsa : Rakyat daerah ini berada di tengah - tengah suku Jawa dan suku Sunda.
d. Kebudayaan : Kebudayaannya sebagian pengaruh kebudayaan Jawa, lainnya kebudayaan Sunda.
Demikian juga dalam segala hal selalu barada di pertengahan tidak pernah menonjol dan tidak pula terbelakang.

7. Asal Usul Desa Kawunggirang

Asal-usul Desa Kawunggirang tidak banyak di ketahui orang.karena tidak ada bekas-bekas peninggalan maupun prasasti yang bisa di jadikan sumber keterangan. Tokoh-tokoh masyarakat pun tidak banyak memberikan keterangan karena asal-usul Desa kawunggirang hanya di ceritakan dari mulut ke mulut saja dan dalam kalangan tertentu saja.

Masyarakat Desa kawunggirang menganggap jika pendiri desa kawunggirang adalah orang yang pertama kali menyebarkan agama islam di desa kawunggirang. Beliau adalah Embah Bahim (Tubagus Ibrahim) yang di makamkan di Astana Gede.Embah Bahim adalah anak dari Embah Latif.Embah Latif sendiri adalah anak dari Embah Pucuk Umum Fatu Talaga yang menikah dengan Maulana Ibrahim yang berasal dari Baghdad,Irak.

Kemudian datang pula seorang ulama keturunan sultan Banten yang bernama Tubagus Kacung yang mempunyai nama asli Tubagus Bunyamin. Beliau sengaja menyingkir dari kesultanan Banten karna kekacauan politik dengan adanya perebutan kekuasaan di kesultanan Banten. Kemudian Tubagus Kacung menikah dengan salah seorang putri Embah Bahim.

Embah bahim sendiri tidak begitu dijelaskan dengan siapa beliau menikah dan di karuniai beberapa keturunan.
Kemudian salah seorang putra Tubagus Kacung ada yang menjadi Qasli atau atau penghulu besar kesultanan Cirebon yang bernama Embah Arjean. Kemudian salah seorang putra Tubagus Kacung yang lain yang bernama Embah Abdullah Komar ,menjadi penghulu pertama kabupaten Majalengka.

Asal usul nama Kawunggirang
Desa Kawunggirang sebenarnya bersal dari “Kaum Girang” yaitu kumpulan orang-orang(kaum) yang berada di daerah yang tinggi(girang).berubahnya nama Kaum Girang menjadi Kawunggirang adalah di ilhami dari pohon kawung (aren) yang memiliki banyak kegunaan.diantaranya :
Batang (bogor) : di jadikan berbagai perkakas rumah.
Daunya : dijadikan rokok.
Buahnya :di jadikan makanan.
Lidinya : di jadikan sapu.
Bunganya : di sadap di jadikan gula.
Dan masih banyak lagi.
Kesimpulanya, masyarakat kawunggirang ingin menjadi masyarakat yang berguna bagi dirinya maupun orang lain.
Tidak di ketahui kapan waktunya nama Kaum Girang di rubah menjadi Kawunggirang.

B. Seni dan Tradisi Di Desa Kawunggirang.
Desa kawunggirang sejak dahulu adalah desa yang islami.karena dari dahulu sudah terdapat pesantren yang mampu menarik santri santri dari daerah yang jauh sekalipun.
Adat istiadatnyapun tidak menyimpang dari ajaran-ajaran islam pada umumnya.tidak ada yang istimewa dalam berbagai kegiatan bermasyarakat.dari pernikahan,khitanan dan kelahiran semuanya masih dalam ajaran-ajaran islam.

Kesenian di desa kawunggirang pun masih berbau islami. Misalkan seni Qasidah dan Rebana yang kini di kembangkan di dua pesantren di desa kawunggirang. Biasanya satu grup pemain rebana terdiri dari delapan orang penabuh rebana dan dua atau tiga orang menjadi penyanyi atau yang berqasidah, ditambah satu orang pemain organ atau piano dan pamain bass sebagai pengiring.


Rebana juga sering di kenal dengan sebutan genjring. Di sebut genjring karena apabila di tabuh, lempeng-lempeng besi berbentuk bulat yang ada di sekeliling badan kayu pada rebana akan saling beradu dan menimbulkan suara gemerincik.
Rebana atau genjring masih sering dipakai dalam acara-acara keagamaan tertentu, misalkan pada waktu menyambut tahun baru islam, rebana dipakai untuk mengiringi sholawat pada waktu pawai obor mengelilingi desa.

Selain kesenian rebana, ada suatu kegiatan yang ada setiap tahun rutin dilakukan. Yaitu ziarah ke makam Embah Bahim yang di lakukan setiap setelah Idul Fitri tepatnya setiap tanggal 15 syawal Peziarahnya pun tidak dari masyarakat kawunggirang saja, ratusan orang datang dari berbagai daerah ke desa kawunggirang untuk berziarah.
Ziarah ini adalah ziarah keliling untuk menziarahi makam para pejuang islam. Kebetulan pejuang yang di tuakan adalah makam Tubagus Ibrahim atau yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah Bahim. Oleh karena itu tujuan pertama para peziarah adalah dengan menziarahi makam Mbah Bahim yang berlokasi di desa kawunggirang.

8. ASAL USUL KELURAHAN MUNJUL

Kurang lebih pada tahun 1628 di wilayah ini hidup seorang tokoh bernama BAPAK SARENI. Beliau adalah seorang tokoh yang berperangai lembut dan berilmu tinggi(sakti mandraguna). Ilmu padi adalah peganganya; yakni makin berisi makin merunduk, jauh dari sifat dan sikap sombonga. Sifat ini menyebabkan beliau sangat di hormati dan disegani oleh siapapun.

Pada suatu hari beliau kedatangan tamu, yaitu sepasukan prajurit kerajaan Mataram yang terpisah dari induk pasukannya setelah manyerang Batavia(1628-1629). Sisa pasukan itu tampak lunglai karen lapar dan dahaga.

Melihat keadaan demikian, Bapak sareni permisi kepada tamunya untuk pergi ke dapur, menanak nasi seperiuk dan memasak air satu ruas/lodong. Setelah nasi dan air itu masak, segera di suguhkan kepada beberapa puluh orang prajurit Mataram yang sedang kelaparan.

Alangkah takjub para prajurit Mataram itu, karena nasi seperiuk dan air satu lodong saja bisa mecukupi pasukan tersebut, padahal mereka lahap sekali.
Selesai makan, pimpinan pasukan berkata dalam bahasa jawa : “Niki wong punjul bener, sega seperiuk lan banyu semono nyukupi balad kula.” Artinya kira-kira demikian : “Orang ini ‘punjul’ (sakti) sekali, nasi seperiuk dan air selodong saja dapat mencukupi pasukan saya.

Kata PUNJUL yang di ucapkan oleh pimpinan pasukan Mataram itu ternyata membawa berkah tersendiri. Orang-orang di wilayah ini kemudian mengabadikannya menjadi nama desa di wilayahnya. Kata “punjul” pada akhirnya mengalami perubahan pengucapan menjadi sebuah kata bersejarah yang melakat sampai sekarang, yaitu : MUNJUL.

9. ASAL USUL DESA KODA SARI.

Di perkirakan abad k 15 di wilayah desa KODASARI sekarang ada dua tokoh yang mendiami tanah tersebut,di sebelah barat laut di diami oleh Ki gedeng Lawung beserta keluarganya.

Dan di sebelah tengara didiami oleh Ki Gedeng Koda beserta keluarganya juga.
Al kisah ke dua tokoh ntersebut hidup bertanin dengan keadaan berkecukupan’dan lebih-lebih Ki Gedeng Lawung lumbung kata para ketua,Ki Gedeng Koda yaitu lumbung gudang padinya berderet saking banyak padi yang di smpan.

Ketika orang koda sari pada tahun 1939 pindah dari nunuk maja dua orang tersebut sudah tidak ada.hanya saja menurut cerita orang-orang tua di sekitar itu,di blok lawang lumbung atau sawah panjang sekarang telah menetap seorang yang bernama ki gedeng luwung lumbung ,hingga sekarang areal tanah di situ di sebut areal sawah luwung lambung atau sawah panjang kara pelakunya panjang-panjang.

Adapun tokoh ki gedeng koda beliau meninggalkan sebuah sumur tua yang sampai sekarang di sebut sumur koda.ketika penduduk dari wilayah selatan kota majalengka yakni nunuk maja pindah ke tanah kodasari dan sekarang para tokohnya menetapkan sebuah nama baru di desa tersebut yaitu DESA KODASARI.

Kata koda di ambil dari kata yang pada zaman dahulunya ada leuweung koda dan juga sumur koda,kemudian ditambah kata sari yang katanya berarti kenikmatan.
Jadi nama desa kodasari berarti nama yang akan menjadikan hidup penuh nikmat.
Itulah mengapa desa kami disebut desa koda sari.

10. ASAL-USUL DESA HAURGEULIS

Pada abad ke-18 SM, ada sebuah kerajaan yang sangat megah dan besar. Kerajaan tersebut bernama kerajaan “Palembang Gunung”.

Palembang Gunung diambil dari nama raja yang memimpin kerajaan tersebut yaitu Raja Palembang Gunung. Raja tersebut mempunyai seorang isteri dan seorang puteri yang sangat cantik. Puteri itu bernama Shinta Sari.

Alkisah, karena kecantikan dan kekayaan yang dimiliki oleh Puteri Shinta Sari, sehingga ada seorang raja dari Kerajaan “Maleber” yang ingin menikahinya, raja tersebut bernama Raja Sangiang. Akhirnya, dengan restu dari kedua orang tua Puteri Shinta, Raja Sangiang menikahi Puteri Shinta.

Setelah menikahi Puteri Shinta, Raja Sangiang ingin cepat-cepat menerima warisan dari Raja Palembang Gunung. Tidak ada cara lain yang bisa dilakukan oleh Raja Sangiang selain membunuh mertuanya tersebut. Dengan cara itulah ia dapat memiliki segala kekayaan Raja Palembang Gunung. Akhirnya Raja Sangiang membunuh Raja Palembang Gunung dan Raja Palembang pun meninggal.

Setelah Raja Palembang Gunung meninggal harta kekayaan mertuanya tersebut jatuh ke tangan Raja Sangiang. Disitulah Puteri Shinta tahu bahwa Raja Sangiang menikahinya hanya karena harta yang dimilikinya. Puteri Shinta pun ingin membalaskan sakit hatinya kepada suaminya tersebut. Akhirnya, Puteri Shinta membunuh suaminya dengan cara ditusuk oleh konde yang dipakai oleh Puteri Shinta. Konde tersebut mengenai ulu hati Raja Sangiang. Raja Sangiang pun meninggal. Setelah meninggal, Raja Sangiang dimakamkan. Makam suaminya tersebut, ditanami bambu haur oleh Puteri Shinta, sehingga di tempat tersebut tumbuh bambu haur, yang akhirnya tempat tersebut diberi nama “Haurgeulis”. Yang artinya bambu haur yang ditanam oleh seorang Puteri yang cantik.

11. ASAL USUL WERASARI

Pada awal islam penyebaran di pulau Jawa, terungkaplah dua orang tokoh penyebar agama islam daari kerajaan islam yang disertai oleh ttiga orang pengikutnya
Kedua tokoh tersebut masing-masing bernama Antisari dan Mayangsari serta ketiga pengikut lainnya adalah : Mangkunegara, Brahmajaya, dan Jayalaksana..

Pada suatu ketika yang kebetulan dibarengi oleh Sultan Cirebon menghadap raja talga manggung yang bernama Giringsing Wesi. Adapun kedatangan merka untuk menyebarkn agama islam , yang kebetulan itu raja kerajaan talaga manggu beragama hindu.

Namun apa yang terjadi tatkala para utusan mengutarakan maksudnya. Raden Giringsin Wesi menjawab bahwa ia bersedia masuk islam tapi dengan permintaan atau lpersyaratan, yakni : ia bersedia masuk agamma islam apabila ia kalah dalam beradu kekuatan atau jajate (sunda). Adapun permintaannya adalah : coba pikulah padi yang ada di hadapan kalian.

Kemudian salah seorang dari utusan yang merasa dirinya atau tenaganya paling kuat mencoba padi tersebut dengan menggunakan sepotong bamboo aur sebagai alat untuk pemikulnya, karena menurhut perkiraannya bahwa padi itu hanya denagan mempergunakan sepotong buluh.

Maka alangkah terkejutnya dan merasa malu yang bukan alang kepalang, sehingga seketika itu mereka juga berpamit untuk meningglakan tempat itu dengan tangan hampa.
Semula mereka akan kembali ke tempat masing-masing akan tetapi diperjalanan mereka mengadakan rundingan yang hasil dari rundingan itu mereka memutuskan dan bersumpah tidak akan pulang ke Mataram sebelum mereka dapat menaklukan Raja Talaga manggung, sekalipun apa yang terjadi.

Akhirnya pergilah mereka bersama-sama menuju arah selatan bermaksud untuk menyusun kekuatan.
Pada suatu ketika setelah berhari-hari bahkan berbulan-bulan menyusuri hutan belantara bahkan adakalanya harus mendaki gunung atau menuruni lembah, dan akhirnya sampailah pada suatu tempat yang berbukit-bukit dan disana-sini pohon yang rindang tumbuh dengan suburnya.

Maka istirahatlah mereka di sana sambil rumusan untuk menyusun sebuah kekuatan. Tempat istirahat dan bermufakat mereka itulah hingga disebut pancalikan. disanalah mereka membuat pemukiman yang baru dan dari situlah mereka mulai mengadakan hubungan dengan kampong-kampung yang dihuni orang.

Disanalah mereka mulai menyebarkan dan mengajarkan agama islam, serta pengetahuan-pengetahuan lainnya sehingga banyaklah pengikutnnya. Diantara penyebar-penyebar agama islam itu ada yang sngat disayangi, yaitu Antisari dan Mayangsari sehingga meraka pun dijadikan anak angkat oleh orang tua yang bernama Buyut Pulung.
Pada suatu ketika mereka merasa kuat dan sudah mampukarena sudah banyak pengikutnya, maka timbulah niatnya untuk mengadakan musyawarah secara besar-besaran, serta mengundang tamu-tamu yang jauh akan mengambil tempat paseban, yang sekelilingnya banyak tumbuh pohon bamboo. Sehingga sampai sekarang tempat itu disebut Jamburaya ( sunda ) Jambu Rea.

Musyawarah pun berlangsung dengan baik dan lancar. Tamu-tamu yang datang hormati dengan sebaik-baiknya.

Menurut cerita bekas peralatan orang dapurnya sampai sekarang masih berada berupa barang yang terbuat dari batu, antara lain : pengarih, gentong, jubleg (Bahasa Sunda) yang semuanya dibuat dari batu. Konon katanya menurut cerita orang, bekas tusuk satenya pun berubah menjadi rumpun bamboo.

Perkampungan itu semakin lama semakin maju, maka tidak herankah apabila masyarakat didaerah teersebut digolongkan sudah makmur. Sudah barang tentu demikian keadaanya karena para penyebar agama islam disana bukan hanya saja mengajarkan agama islam melainkan juga masalah pertanian, perdagangan dan ilmu-ilmu lainnya pun mereka ajarkan.


Mereka mengajarkan cara-cara membuat sawah, serta memberikan teladan-teladan yang baik.Menurut cerita orang, bila antisari mengerjakan sawahnya disamping dengan tekun bekerjanya juga mempunyai keistimewaan yang luar biasa yakni makanan yang dibawa untuk bekal kerja itu hanyalah pais beuyeur (sunda) dan itu pun tidak dimakannya, melainkan hanya dipindah-pindah saja dari pematang yang satu ke pematang yang lainnya. Akan tetapi kekuatan badan dan tenaganya tetap segar. Maka makin lama makin luaslah persawahan mereka, dan makin suburlah tempat mereka.
Pesawahan bekas mereka sampai sekarang ada dan di jadikan upah caarik atau bengkok pamong desa.

Karena keuletan mereka, sehingga banyak penduduk yang mengagumi dan menghargai mereka. Bahkan ada yang dari mereka di angkat menjadi sesepuh di tempat tersebut, yaitu Antasari beserta istrinya. Sejak itu julukannya jadi Eyang Antasari.
Untuk memilih nama tempatnya pun di aambil dari nama bunga (wera) yang banyak tumbuh di daerah tersebut dan dari akhir nama sesepuh tersebut (sari), sehingga itulah jtercipta nama WERASARI, sampi sekarang. Mereka pada umunya banyak menyebarkan kebeberapa disekitar desa Werasari, yang sampai sekarang pun pemakamannya masing-masing punya nama sendiri seperti :
• Eyang Antasari dan Mayangsari terletak di Binuang
• Mangkunegara dipemakaman Pasarean Salam
• Brahmajaya dipemkaman Cipicung
• Jayalaksana dipemakaman Pasir Sereh

Menurut kepercayaan orang disana sampai sekarang perrkuburan tersebut masih dipelihara dan banyak di kunjungi oleh orang dan di anggap sebagai leluhur yang mula-mula membangun Werasari. Di samping itu menurut kepercayaan orang disana apabila ada tamu yang berkunjung dan ingin menetap disana harus berziarah ke pemakaman leluhur tersebut. Demikinlah kisah ringkas asal-usul Werasari.


12. ASAL USUL DESA BABAJURANG

Pada waktu itu negara Indonesia ini masih dalam bentuk kerajaan. Disamping kerajaan besar yang berada di Indonesia ada 2 buah kerajaan kecil yaitu kerajaan singakarta dan nagakarta. Kedua kerajaan itu saling bermusuhan. Kerajaan nagakarta adalah sebuah kerajaan yang paling tentram karena pemimpinnya adalah Raja Darta. Raja darta adalah seorang raja ynag paling arif bijaksana.

Raja darta adalah seorang pemimpin yang jujur dan adil kepada masyarakatnya. Sedangkan Raja Purwa ialah seorang Raja dari Kerajaan Singakarta ialah raja yang sombong dan raja yang selalu ingin berkuasa di kawasan mana saja.dan yang paling penting kerajaan tersebut menginginkan kekuasaan yang diduduki oleh raja Darta. Kerjaan Nagakarta memeliki sebuah batu berlian yang sangat bersar yang dapat memerintah dimana saja. Oleh karena itu kerajaan singakarta menginginkan batu berlian tersebut untuk berkuasa.

Pasukan singakarta pun menyerang Kerajan Nagakarta sehingga terjadi sebuah pertempuran antara kerajaan nagakarta dan kerajaan singakarta. Ditengah pertempuran Raja Nagakarta berbisik pada kedua orang prajuritnya untuk memebawa kabur batu berlian itu sejauh mungkin. Karena Raja Darta tidak mau batu berlian itu sampai jatuh ketangan Raja Purwa. Kedua orang suruhan Raja Darta membawa pergi batu berlian tersebut. Pertempuran akahirnya selesai kerajaan Nagakarta mengalami kekalahan karena pasukan Kerajaan Singakarta sangat banyak sehingga peretmpuran tersebut dimenangkan oleh Kerajaan Sinagakarta.

Setelah pertempuran reda pasukan singakarta mulai masuk kedalam istana dan mulai memerikasa dan mencari batu berlian tersebut, ternyata batu berlian tersebut tidak ada di Istana . mendengar bahwa batu berlian tersebut sidah tidak ditemukan diIstana Raja Purwa marah karena tidak dapat membawa batu berlian itu ke wilayah Kerajaan Singakarta.

Kerajaan Nagakarta di hancurkan. Setelah dihancurkan Raja Purwa memerintahkan pasukannya utuk mencari utusan yang memebawa batu berlian tersebut.setelah pencarina tersebut pasukan Singakarta Tidak dapat menemukan utusan yang memebawa batu berlian tersebut. Pasukan tersebut kehilangan jejak.

Setelah berlari terlalu jauh utusan tersebut berhenti sejenak untuk melepaskan lelah. Tak terasa kedua utusan tersebut beristirahat di sebuah hutan dan dipinggirnya terdapat sebuah tebing (jurang) yang sangat curam. Setelah beberapa hari mereka berada didalam hutan, mereka berpikir untuk apa kita hidup kalau selalu dikejar-kejar oleh pasukan dari Krajaan Singakarta. Satu dari utusan tersebut berbicara “bagaimana kalau kita terjun saja kejurang ini?” tapi kalau terjun kebawah jurang bagaimana dengan amanat dari Raja Darta mengutus kita untuk menjaga batu berlian ini.kedua utusan tersebut berpikir sejenak.

Akhirnya satu dari utusan tersebut berbicara “bagaimana jika batu berlian ini kita bagikan kepada orang – orang yang kurang mampu”. Utusan yang satunya menjwab “bagaimana dengan amanat yang diberikan kapada kita.” Begini saja kakang kita tulis saja amanat didalam kotak berlian ini.bagai mana kakang setuju tidak?”. Setelah batu berlian tersebut di masukan kedalam kotak yang sudah terdapat pesan maka mereka terjun kejurang tersebut pikirnya mereka dari pada tertangkap dan dibunuh oleh pasukan dari Kerajaan Singakarta lebih baik mereka mati dari pada mereka harus mati.

Akhirnya kedua utusan tersebut terjun kedalam jurang tersebut. Setelah utusan tersebut terjun kedalam jurang ada 2 orang anak yang sedang mengembala kambing dan kedua anak tersebut sambil membawa seekor anjing. Seekor anjing menggonggong seakan ingin memeberitahukan bahwa ada mayat yang terjatuh dari jurang tersebut. Kedua anak tersebut langsung menghampiri suara gonggongan anjing tersebut.

Ternyata ada 2 buah mayat yang terdampar dengan sebuah kotak yang sangat besar. Anak tersebut langsung lari untuk memberi tahu orang tuanya, bahwa mereka menemukan 2 oarang mereka bahwa ada babah di jurang maksud anak tersebut adalah mayat yang terdampar di jurang. Orang tua anak tersebut langsung pergi menuju jurang. Setibanya mereka disana orang tua dan kedua anak tersebut langsung memekamkan kedua mayat tersebut tepat dimana merekan menemukan mayat tersebut. Setelah mereka memakamkan mayat tersebut mereka langsung membuka kotak yang isinya belum merekan ketahui. Setelah orang tua tersebut membuka kotak tersebut mereka kaget ternya ta sebuah batu berlian yang sangat bersar dan selembar surat yang berisi sebuah pesan yang isinya “ pergunakanlah batu berlian ini sebaik mungkin”.

Setelah beberapa tahun kemudian terdapat kawasan yang cukup luas dan sangat strategis untuk dijadikan sebuah pedesaan. Akhirnya kawasan tersebut dibuat sebuah Desa yang makmur dan sederhana walaupun penduduk desa tersebut sedikit tetapi mereka tidak kekurangan untuk menghidupi kehidupan. Desa tersebut di beri nama Desa Babajurang.

Seiring berkembangnya waktu Desa Babajurang tersebut mengalami perubahan dalam sistem pemerintahan yang tadinya dari sistem kerajaan berubah menjadi sistem demokrasi, pada waktu itu diadakan pemelihan Kepala Desa atau Kuwu. Pada waktu itu Kuwu yang pertama kali menjabat adalah Bapak Kuwu Ubred terus dan sampai sekarang terdapat 15 kuwu atau kepala desa yang menjabat di Desa Babajurang diantaranya

13. ASAL-USUL LAHIRNA NAMA KELURAHAN

Pada retengahan abad XV1 Masehi,wilayah semedang Larang tatar-wetan,rakyatnya masih mengnit agama hindu dan disitu pulalah adanya Padepokan agama Hindu yang besar dan banyak pula penganutnya.Adapun padepokan tersebut di pimpin oleh 3 orang tokoh hindu yang semuanya wanita yaitu:Mbok Nyi Rambutkasih alias Ambetkasih dan di bantu oleh Mbok Nyi Ramogede dan Mbok Nyi Rundaikasih.Mbok Nyi Rundaikasih alias Ambet kasih adalah putri dari prabu cakraningrat (Raja dari kerajaan Galuh),karena merasa ketakutan ayahnya terkalahkan oleh seorang ratu (Ratu Gandasari dari pangorangan)maka Mbok Nyi Rambut kasih alias Ambet kasih dan kawan-kawan melarikan diri ke arah barat yang kemudian mendirikan sebuah padepokan.Adapun di bangunnya padepokan serta tempat kediaman masing-masing adalah sebagai berikut :
- Pedepokan dan tempat kediaman Mbok Nyi Rambutkasih alias Ambetkasih oleh pemerintah Hindia Belanda di bangun menjadi Gedung Pemerintah Ragenschap.
- Kediaman Mbok Nyi Ramogede sekarang menjadi alun-alun.
- Kediaman Mbok Nyi Rundaikasih di bangun Kantor Asisten Residen (sekarang Gedung Juang).

Keadaan pedepokan Hindu di wilayah ini telah diketahui oleh Raja Demak,maka segera Raja Demak menyiapkan/memilihpara utusan untuk mengemban tugas suci dalam penyebaran/peng- islaman rakyat di wilayah tersebut.Adapun yang dipilih seorang Pengawal Tinggi Negara/ Ulama besar (Adipati Arianingrat alias Syekh Salamodin bin Adipati Kartanegara alias Bagus Soleh Kartanegara).Dalam perjalanan menuju semedanglarang,para utusan di haruskan singgah/laporan terlebih dahulu ke Kesultanan Cirebon.Dalam pemberangkatn beliau didampingi oleh 2(dua) orang istrinya (Mbok Nyi Radenmas Ambimuniawati alias Kembangsekar Nagasakti,Mbok Nyi Mas Rumayasakti alias Rambaigelung),Senapati Gugur Alam dan Jagawaktu Mangku Alam.Setibanya di wilayah Cirebon,maka para utusan dari Kerajaan Demak,singgah/laporan ke Kesultanan Cirebon.Sultan Cirebon kesinggahan utusan dari Kerajaan Demak serta laporannya sangat senang sekali hatinya dan pada waktu itu juga beliau segera menunjuk Pangeran Muhamad untuk menyertai bersama-sama berangkat menuju Sumedanglarang dimana tempat padepokan agama hindu itu beradadan dan pemberangkatan tersebut Pangeran Muhamad pun ndidampingi oleh istrinya (Ratu Siti Armilah alias Mbok Ratu Gedeng Badori).Dlam perjalanan menuju Sumedanglarang tatarwetan dimana padepokan hindu berada,langsung dapat dijumpainya dan kebetulan sekali ketiga orang tokoh hindu yang dicari ada dalam padepokan.Maka kedua utusan dari Kerajaan Demak dan Cirebon langsung memaparkan tugas tujuannya serta menjelaskan ajaran-ajaran isi dari pada agama terakhir (agama islam/serta disebutkan bahwa semua manusia bakal mati dan kelak akan dibangunkan/dihidupkan kembali).

Ketiga tokoh hindu mendengar perkataan yang terakhir ini sangat tidak mempercayai-nya dan ia langsung menyerahkan seluruh umatnya,seraya berkata : “Silahkan umat kami semuanya masuk agama islam,hanya kami bertiga tetap menganut agama hindu dan kami tidak percaya bahwa manusia yang sudah mati kelak akan hidup kembali,kami ingin hidup untuk selamanya”,yang akhirnya ketig tokoh hindu tersebut menghilang (Ngahiang).


Setelah menyerahkan umatnya dan ngahiangnya Mbok Nyi Rambutkasih alias Ambetkasih dan kawan-kawan,maka kedua utusan dari Karajaan Demakdan Cirebon masing-masing mencari tempat untuk tempat kediamannya masing-masing :
1. Pangeran Muhamad memilih di sebelah Utara Kali Citangkurak dan setelah menbangun tempat kediaman langsung meninggalkan istrinya melaksanakan tetapa di sebelah Utara Gunung Balukbuk sehingga wafatnya dan dimakamkan di tempat itu pula yang makamnya disebut “MARGATAPA”.
2. Adipati Arianingrat alias Syekh Salamodin memilih tempat di komplek jatilawang sebelah Utara Kali Cijurei (sekarang disebu8t kampung pasantren).Beliau dan kawan-kawan dengan di bantu rakyat setempat sibuk membangun tempat kediaman serta Padepokan/Pesantren yang sangat besar.Keadaan pesantren yang dipimpinnya sangat ramai,makin hari bertambah para santrinya ,karena semua umat hindu yang diserahkan Mbok Nyi Rambutkasih alias Ambetkasih kepada para utusan,kesemuanya pindah dari agama hindu menjadi umat agama islam.
Sedang sibuk-sibuknya utusan dari Kerajaan Demak melaksanakan tugas yang suci ini,datanglah utusan dari Kerajaan Mataram yang diutus untuk mengirimkan surat-surat itu adalahsurat undangan untuk memohon kehadirannya Adipati Ariningrat alias Syekh Salamodin dalam pernikahan purti Kerajaan Mataram.

Pada hari dan tanggal yang telah ditentukan Adipati Arianingrat alias Syekh Salamodin karena dengan adanya kesibukan tugas suci ini tidak dapat menghadirinya sedangkan pada waktu pelaksanaan pernikahan di Kerajaan Mataram ada suatu kejadian yang sangat besar (putri Mataram ) yang akan diistrikan/ditikahi,tidak ada/menghilang,dicari kesana-kesini tidak diketemukan dan terakhir diperiksa di buku absen para tamu undangan dan ternyata yang tidak hadir itu adalah Adipati Arianingrat alias Syekh Salamodin,maka anggapannya bahwa yang menculik putri itu adalah Adipati Ariningrat alias Syekh Salamodin dari Semedanglarang Tatarwetan.

Maka dengan adanya kenyataan itu,Raja Mataram segera mengirimkan utusan untuk mengambil Putri Mataram yang anggapannya diculik oleh Adipati Ariningrat alias Syekh Salamodin.Setibanya di tempat kediamannya,maka utusan menghaturkannya sebuah amplop surat kepadanya.Setelah membaca surat Adipati Arianingrat alias Syekh Salamodin hanya tertawa sambil berkata yang ditujukan kepada para utusan dari Kerajaan Mataram.”Saudara para utusan sekalian!Pada waktu pelaksanaan pernikahan Patri Mataram,karena saya sedang mengemban tugas dari Kerajaan Demak,saya tidak dapat menghadirinya dan keadaan Putri memang ada di daerah sini,namun walaupunkekuatan saudar ratusan jiwa tidak akan kuat melawannya,yang menculik adalah Siluman “Buaya Putih”adanya di pelbuhan leuwiseeng,sekarang begini saja?Dari pada saudara-saudara melawan Buaya Putih tentu tidak akan tersisa/pulang nama,kembali kenegara tentu jadikan gantinya,sekarang sudah saja bebetah/mukim disini”.Akhirnya para utusan dari Kerajaan Mataram semuanya mengikuti ajakan Adipati Arianingrat alias Syekh Salamodin,semuanya mengikuti bermukim bersama.

Hari ini Ayahanda Adipati Arianingrat alias Syekh Salamodin (Adipati Kartanegara alias Bagus Soleh Kaertanegara bin Syekh Maslullah Alias Bagus Prawoto Kartaningrat)bahwa putranya yang ditugas sucikan ke wilayah Sumedang Larang telah banyak pengikut-pengikutnya dari Kerajaan Mataram,maka beliau mengajak istrinya,putra-putranya serta para sahabat dan ponakawannya untuk bersama-sama mengikutinya.Adapun rombongan dari Ayahanda Kerajaan Demak yaitu :
1. Adipati Kaktanegara alias Bagus Soleh Kaertanegara (ayah)
2. Mbok Nyi Mas Ayu Rndaningsih (ibu)
3. Syekh Pamaku alah alias Syekh Magribi (sahabat)
4. Patih Geger Alam
5. Rd. Taufanudin
6. Rd. Puseurjagat alias Rd. Sukmadiwijaya
7. TumenggungTanumangrat (Putra Kedua)
8. Rd. Angga Tunggal Pati alias Giri-Papat (Putra Keempat)

Dengan adanya tambahan jiwa dari Kerajaan Demak,keadaan pesantren makin ramai,para santri makin banyak,pengajarnyapun makin bertambah,karena demikian ruangan belajar pun di perluas.Pada suatu saat akhir abad XV1 Adipati Arianingrat alias Syekh Salamodin mengadakan musyawarah,dalam musyawarah ini semua orang tua,ayah bunda,saudara, ponakawan dan para sahabat,begitu pula pedatang dari Kerajaan Mataram di haruskan hadir,dan isi-isi dalam musyswarah tersebut adalah :

1. Menetapkan nama sebuah Pedukuhan
2. Memilih/menetapkan siapa yang pantas diangkat menjadi kepala Pedukuhan.

Dalam musyawarah tersebut dan mengingat yang kumpul dalam musyawarah kesemuanya orang-orang dari jawa (Demak dan Mataram),maka semuanya yang hadir setuju pedukuhan itu diberi nama “BABAKAN JAWA” serta yang di angkat memangku jabatan sebagai kepala pedukuhan pertama (Adiapti Arianingrat alias Syekh Salamodin).Adapun luas dan batas-batasnya wilayah pedukuhan Babakan jawa adalah sebagai berikut :
- Sebelah Utara : Kali Cideres
- Sebelah Selatan : Kali Cilutung
- Sebelah Timur : Kali Cideres,Cicurug,Sindangkasih,Cibodas.
- Sebelah Brat : Kali Cilutung,Sidamukti,Munjul,Jatipamor,dan Cijati.

Maka pada akhir abad XV1 Masehi di wilayah Sumedang Larang TatarWetan,telah lahir sebuah sebuah pedukuhan yang diberi nama :
BABAKAN JAWA
Yang sekarang telah berubah status menjadi Kelurahan Babakan jawa,Kecamatan dan Kabupaten Majalengka.
Demikian sejarah singkat Adipati Arianingrat alias Syekh Salamodin alias Babus Soleh Kartanegara disusun dan ditulis berdasarkan komunikasi dengan leluhur Babakan jawa yang bersangkutan.

14. ASAL USUL DESA BARIBIS LAMA

Terbentuknya Pemerintahan Baribis Lama
Pada tahun 1302 M, datanglah ke Dukuh Asem sepasang suami istri, yaitu : Pangeran Jaya Wisaya dan Nyi Anta Sari Manik. Mereka berdua menjalankan titah tugas dari Kanjeng Susuhunan Sultan Cirebon : Sunan Gunung Jati, untuk menyebarkan agama islam, tapi masih menganut Animisme atau agama lainya : Hindu atau Budha dan agama karuhun lainnya semacam kepercayaan.

Asal kelahiran Pangeran Jaya Wisaya sebenarnya bukan asli Cirebon, namun dari Keraton Mataram, dan masih saudara dengan Pangeran Dalem panungtun yang makamnya di Giri Lawungan Majalengka (Sindangkasih) begitu pula istrinya Nyi Anta Sari Manik aslinya kelahiran BEREBES Jawa Tengah. Mereka berdua bukan orang sembarangan. Sebagai da’i, penyebar agama islam yang senantiasa mengembara tentu membekali diri dengan berbagai ilmu kedigjayaan untuk berjaga-jaga, dari berbagai kemungkinan dan bahaya. Diriwayatkan keduanya memiliki Aji : Miraga pitu. Bahkan sang istri memiliki gegaman : CUPU MANIK.

Pangeran Jaya Wisaya bersama istrinya merasa betah tinggal di Dukuh Asem. Selanjutnya beliau merasa perlu membentuk organisasi pemerintahan di Dukuh Asem, mengingat semakin bertambah, yang tentu saja memerlukan pengurusan yang tertib, demi kepentingan dan kesejahteraan hidup bersama. Maka dibentuklah atas restu dari keratin Cirebon Kademangan Dukuh Asem, yang kemudian namanya di rubah dengan nama BARIBIS. Pada saat itu jumlah penduduk Dukuh Asem telah mencapai 224 orang selurhnya termasuk anak-anak dan bayi.

Adapun orang yng pertama di pilih oleh rakyat adalah Pangeran Jaya Wisaya tidak heran, karena berkat beliaulah rakyat merasa tentram dan sejahtera. Sementara islam telah menjadi agama mereka. Ini pun berkat akhlaq yang luhur kedua suami istri itu. Sehingga misi suci mereka, menyebarkan kebenaran, tauhid, tidak mendapat perlawanan ; malah di sambut dengan rela mengikuti dan memeluk agama baru, yaitu Islam.

Tentang pergantian nama menjadi Baribis, sebetulnya bukan kejadian yang terjadi begitu saja. Namun hal ini lahir dari perenungan dan konsultasi dengan para sesepuh dan tokoh masyarakat Dukuh Asem. Wallahu ‘alam. Ada yang menafsirkan dari kata BABARIBISA. Maksudnya penduduk Dukuh Asem dalam mempelajari agama islam cepat dan lancar memahami, cepat mengerti, Babari Bisa, kemudian diwancah, disingkat diambil gampangnya menjadi BARIBIS. Ada pula penafsiran dari kata BEREBES, asal kelahiran Nyi Anta Sari Manik. Dimaksudkan untuk mengenang tempat asal kelahiran beliau. Sehingga antara Baribis dan Berebes tetap terjalin hubungan yang bersifat batiniah yang diabadikan melalui nama BARIBIS. Semuanya serba mungkin. Wallahu ‘alam, kita serahkan semuanya kepada Allah SWT.


Fakta betapa sangat tuanya desa Baribis, juga didukung oleh beberapa bukti antara lain banyaknya pemakaman umum yang tersebar khususnya di Baribis sendiri. Jika dihitung lebih dari delapan tempat pemakaman umum yang besar-besar dan luas kapasitas kuburannya paling sedikit ada dua ratusan. Yang paling banyak sekitar 4500 an (seperti halnya pemekaman Gnung Cupu yang sangat luas itu). Belum lagi kalau ditambah dengan pemakaman yang ada di desa-desa bekas anak wilayah desa Baribis, seperti Babakan Manjeti, Kutamanggu dan Batu Jaya yang baru lepas dari Baribis sekitar tahun 1983 M.

15. ASAL MUASAL DESA CICADAS

Nurutkeun carita kolot baheula cicadas the lain desa,tapi CANTILAN atawa DUKUH,tapi desa n amah ka bawa ka desa Burujul.Sahubungan jeng warga na nu makin loba,jadi ceuk sarerea atawa ceuk kolot.kumaha carana supaya hayang misah atawa hayang dibagi dua masing-masing jadi desa nu misah ku kuwu na. antara kuwu Burujul jeung kuwu Cacadas tapi kudu aya kasaiujuan sarerea antara kadua Beulah pihak, nyaeta kudu di ayakeun pilihan nyaeta pilihan KUWU. kumpulan demi kumpulan,riungan demi riungan terus di laksanakeun antara sesepuh kadua pihak. akhirna hasil gempungan eta nyapaketkeun kudu pilihan menurut pangaturan kuwu Burujul, tapi CAERNA ti Burujul z ti Cicadas.

Terus saran eta teh disatujuan ku pihak Cicadas, terus Masyarakat Cicadas the ngajukeun gempungan deui kumaha cara na pilihan eta the beunang ku pihak calon Cicadas sakabeh Masyarakat anu milih ka calon Cicadas di omongan kumaha carana ambeh meunang Niti Wonaci nu mustari ninggang mangsa nu sampurna eta pilihan teh dilaksanakeun dasar kudu aya desa Cicadas anu meunang pilihan teh ti pihak calon Cicadas jeung kaayaan itunganna matak jeung Sali beunang ku Cicadas jadi daek teu daek sesepuh Burujul kudu misah keun eta wilayah anu tadina cantilan Burujul teh jadi desa nyaeta desa Cicadas anu bates na antara sasak jeung sasak ti Beulah wetan anu ayeuna di sebut sasak Cicadas anu ti belah kulona sasak anu deukeut SPBU anu di sebut sasakala desa Cicadas teh nyaeta hate jeung tekad na sarua jeung batu cadas teuasna.

16. ASAL MUASAL CICENANG

Pada perkiraan abad ke-18 di Jawa tengah, yaitu sebuah Kerajaan yang maha besar dan bernama mataram yang sempat mencapai kejayaan sejak diperintah oleh Sultan Agung, yang pendiriannya dan hatinya sangat membenci kaum penjajah yang selalu merongrong kerajaan maupun masyarakat Kerajaan Mataram pada zamannya.

Maka pada waktu Sultan Agung mengadakan perlawanan terhadap penjajah(Belanda) langsung dengan mengerahkan bala tentaranya untuk menyerang jakarta. Pusat Komando penjajah yang pada waktu itu Batavia. Lengkap dengan segala peralatan perangnya seperti: tombak, pedang, keris, bamboo runcing, meriam hasil rampasan maupun buatan sendiri dengan tekad ingin mengusir penjajah dari muka bumi Indonesia, walaupun hanya memakai persenjataan yang sederhana. Maka dikirimlah bala tentara Mataram untuk menghancurkan VOC dengan melalui jalan darat(pegunungan) di sebelah pegunungan Majalengka yaitu Gunung Margatapa.

Pada penyerangan pertama ini Sultan Agung tidak berhasil Sebab kekurangan bahan makanan. Mereka mundur untuk kembali ke Mataram, tetapi diantaranya banyak prajurit Mataram itu tidak kembali ke Mataram. Akan tetapi mereka mencari tempat tinggal yang baru di sepannjang jalan. Salah seorang dari mereka ada yang singgah dan menetap di hutan yang banyaktumbuh berjajar pohon lame.

Prajurit tersebut adalah Embah Buyut Jenggot (karena berjenggot panjang) yang makamnya terdapat di Lamejajar dan tempat itu sekarang diberi nama kampong Lamejajar.

Sultan Agung Raja Mataram merasa tidak puas dengan tidak berhasilnya penyerangan ke Batavia tersebut. Sehingga ia menyusun kembali pasukan untuk menyerang untuk kedua kalinya ke Batavia dengan perlengkapan ditingkatkan. Disepanjang jalan yang dilalui didirikan lumbung padi sebagai persediaan makanan prajurit tetapi impiannya gagal karena semua lumbung padi di bakar oleh tentara VOC.

Yang akhirnya tentara Mataram kehabisan makanan, mereka kembali mundur ke Mataram. Diantara sekian banyak prajurit tersebut ada yang tidak mau kembali ke Mataram tetapi singgah di pedukuhan Lamejajar menemui embah buyut Jenggot, prajurit tersebut bernama Pangeran Martaguna. Yang bermaksud membuka perkampungan baru yang tidak jauh dari Lamejajar.

Untuk maksud tersebut pangeran Martaguna dan embah Jenggot pergi mencari tempat tinggal dan pada suatu hari dilihatnya ada suatu cahaya yang memancar kemudian mereka mencari tetapi mereka tidak mendapatkan apa-apa hanya sumber air yang bening, yang tempatnya di kabuyutan Sirah Dayeuh maka disitulah pangeran Martaguna membuka tempat pemukiman yang baru dan tempat ( pedukuhan ) dinamakan Cicenang dan pangeran Martaguna inilah merupakan kuwu atau kepala Desa yang pertama dan hingga sampai sekarang yang ke 30.
Pada umumnya bersatu padu ingin membangun desa sehingga menjadi desa yang betul-betul swasembada dalam segala hal.

Dan demikianlah riwayat singkat kejadian dan silsilah desa Cicenang berdasarkan hasil pengumpulan informasi dari tokoh-tokoh masyarakat mudah-mudahan benar adanya serta bermanfaat selanjutnya.

17. ASAL-USUL DESA CISAHANG

Sebelum menjadi desa, pertamanya merupakan hutan belantara, yang tak ada penduduknya. Kemudian ada orang yang melarikan diri dari penjajahan Belanda, dan bersembunyi di sana. Para penjajah Belanda tidak menemukannya.
Orang itu melihat tumbuhan sahang yang tumbuh di pinggir sungai yang airnya sangat jernih, sehingga dia memutuskan untuk memberi nama Cisahang. Dia mengajak yang lainnya untuk tinggal di sana, sehingga banyak penduduk yang menempati tempat itu, mereka berasal dari berbagai wilayah yang berbeda-beda. Akhirnya tempat itu menjadi pemukiman sehingga berbentuk sebuah desa sampai saat ini

18. Asal usul desa pilangsari

Pada abad XVII sekitar tahun 1742, seorang jejaka berasal dari daerah kedongdong yang bernama MAULANA SURANTAKA bertemu dengan Buyut Merat di kawasan Blok Kubang Kawih yang akhirnya menjadi pembantu Burut Merat. Pekerjaan sehari-hari mereka adalah babak-babak ( membuka hutan untuk lahan pertanian ). Buyut Merat melakukan babak-babakanya di Kubang Kawih sedangkan Maulana Surantaka babak-babak di sebelah timur kubang kawih (sekarang dinamakan sawah blok pilang). Rumah kediaman Buyut Merat dan Maulana Surantaka adalah di kawasan hutan belantara di sebelah barat laut blok kubang kawih yang dikenal dengan nama “LAESAN PURA”. Laesan artinya tempat mengikat kuda (bahasa sundanya tempat nyancang kuda).Pura artinya hutan belantara, konon ceritanya bahwa ditempat itu dulunya sering digunakan untuk mengikat kuda karena saat itu belum ada desa.

Suatu ketika Maulana Surantaka dan Buyut Merat melakukan SERBA BAKTI ke cirebon menemui Maulana Matangaji (ayah maulana surantaka). Mereka membawa jamur yang diperoleh dari pohon pilang yang tumbuh di sawah Maulana Surantaka (blok sawah pilang). Sesampainya di Cirebon, jamur tersebut di persembahkan kepada Maulana Matangaji yang tentunya, kemudian di masak dan dimakannya. Ternyata jamur itu rasanya anak dan ada serinya sehingga ketika Maulana Surantaka dan Buyut Merat (laesan pura) agar diberinama “Pilangsari” kata pilangsari berasal dari kata “pilang dan sari”. Pilang adalah jenis pohon yang batangnya berduri tempat tumbuhnya jamur, sari artinya enak,ada sarinya.

Sepulangnya dari Cirebon, wilayah laesan pura diganti menjadi “pilangsari” oleh Maulana Surantaka dan Buyut Merat, nama pilangsari ini bukan nama desa tapi hanya nama wilayah. Maulana Surantaka dikenal dengan nama Buyut Cao alias Buyut Gempol sedangkan Buyut Merat disebut juga Buyut Rebo.
Roda jaman terus bergulir,hampir satuabad pilangsari penduduknya kian bertambah datang dari berbagai daerah sehingga semakin layak dijadikan sebuah desa, akhirnya tahun 1842 pilangsari menjadi sebuah Desa yang disebut Desa Pilangsari. Kuwu pertama yang memimpin Desa Pilangsari adalah Bapak Wasra atau Bapak Muria, beliau memerintah dari tahun 1842 sampai 1854.

Buyut Cao atau yang nama aslinya Maulana Surantaka yang semula menjadi pembantu Buyut Rebo/Buyut Merat akhirnya menjadi menantunya mangawini putri kesayangannya. Beberapa tahun kemudian tepatnya pada tahun 1892 Buyut Rebo atau Buyut Merat wafat dan dimakamkan di Kubang Kawih. Selanjutnya tidak lama ke istri Buyut Rebopun masa pemerintahan kuwu ASMAD ditahun 1937. kedua makam tersebut dipindahkan ketengah desa Pilangsari yang dilakukan oleh para sesepuh sebanyak 12 orang di pimpin oleh kuwu Asmad.

Setelah Buyut Rebo meninggal, tinggalah Buyut Cao yang meneruskan perjuangan Buyut Rebo di Kubang Kawih. Bantera rumah tangga Buyut Cao terus berjalan mulus, hingga akhirnya di karunai dua orang anak yaitu anak pertama seorang parempuan yang di kenal dengan nama Nini Kengken dan adiknya laki-laki bernama Aki Dang-Dang yang selanjutnya Aki Dang-Dang nantinya mempunyai anak bernama Buyut NAOE (Baca;Buyut Nau)
Demikianlah lintasan sejarah pilangsari yang diperoleh dari narasumber yakni dari para sesepuh , tokoh masyarakat, tokoh pemuda, anggota BPD, tokoh ulama dan para cendikiawan pilangsari yang menamakan diri ebagai “POKJA 25” yang dipimpin oleh kuwu Turohman.

Hari jadi PILANGSARI yaitu hari Rabu 15 Juli 1762

19. ASAL MUASAL BABAKAN KODA

Konon katanya Babakan adalah membabak-babak dari satu menjadi 2 dan seterusnya dalam pembangunan sebuah pemukiman rumah.Inipun ada kemiripan tetapi berbeda,Babakan koda memiliki sebuah Legenda dan cerita yang tak pernah habis-habisnya.
Istlah Babakan koda berasal dari Babak-babak oleh Mbah Koda.Jaman dahulu ditengah-tengah himpitan antara petapaan Para Leluhur pembawaan ajaran Agama baik Hindu maupun Islam,diantaranya:
Di sebelah Timur ada yang namanya penyebar agama Hindu yaitu Petapaan Nyi Rambut Kasih.Di sebelah Selatan ada yang namanya penyebar Agama Islam yaitu Petapaan yang dihuni bernama Pangeran Muhammad.Disebelah Barat ada yang namanya “Siti Armilah”.dan di tengah-tengah himpitan itu ada rerungkun dengan kesan Angker,pohonnya besar yaitu Pemghuni “Mbah Jaga Lautan”.Sering disebut juga “Kopo”.Masyarakat sekitarnya seperti Cicurug,Sindang Kasih dan Lainnya.Nama MBAH JAGA LAUTAN dominan dengan MBAH KODA yang nama kebuyutannya “KOPO”.Babakan koda hanyalah sebuah kampung cantilan yang masuk wilayahnya ke Desa/Kelurahan Cicurug.Luasnya kurang lebih 2,5 km.Dengan 2 Rukun Warga (RW).Sekarang disebut lingkungan Margaraharja,Penghuninya kebanyakan petani.Masyarakat Babakan Koda yang Berbatasan dengan Kelurahan Majalengka Wetan tetap beranggapan dirinya adalah kampung.Oleh karena itu keyakinan mereka sangat kental dengan istilah Ortodak.

Kenapa masyarakatnya masih ketinggalan dengan teknologi ,masih budaya lama?Karena adanya istilah sesaji yang diberikan kepada arwah leluhur Mbah Koda.Sekarang Mbah Koda atau Mbah Jaga Lautan tinggalah nama yang masih tersimpan oleh para sebagian orang tua dan anak-anaknya yang meyakini cerita masa lalunya.Ada cerita yang bisa meyakini (Tahayul )Keistimewaan Mbah Koda tersebut,yaitu:Misalnya konon katanya dan sering dilaksanakan:Apabila masyarakat yang melaksanakan syukuran (hajatan ) pernikahan,khitanan ingin rejeki banyak,selamat dan pelaksanaan syukuran tidak hujan,tidak ada malapetaka,Hal ini diharuskan bawa sesajen ke tempat itu melalui penjaga kebuyutan (Juru Kunci).Bahkan ada serimonial yang dilakukan apabila mau dikhitan (sunatan )yang mau selamat dilakukan dulu gusaran mandi ke mata air Kopo yang ada di sekitar kebuyutan.Memang sumber air kopo sampai sekarang masih mengalirkan airnya tanpa kekeringan walaupun di musim kemarau.

Sekarang Babak-babak koda itu makin melebah pemukimannya,dibelah dengan Jalan Babakan Koda.Bahkan nama “kopo” oleh masyarakat sekitarnya dijadikan nama Gang /Jalan,misalnya Kopo I,II,dan III.

20. ASAL USUL DESA BABAKAN ANYAR

Menurut Umi Soka / Aki Soka sebagai saksi sejarah Babakan Anyar yang masih mengetahui persis riwayat desa ini. Ia konsisten pada pendirian & keinginannya untuk tetap mampertahankan nama Babakan Sinom daripada nama Babakan Anyar.
Memang pada mulanya desa ini bernama Babakan Sinom, terdiri atas 3 blok, yaitu Babakan Sinom, Pasanggrahan & Dayeuh Kolot. Babakan Sinom adalah daratan yang jauh dari Sungai Cilitung & Cimanuk. Sedangkan Pasanggrahan merupakan kota besar di Kadipaten pada saat itu, yang persis berada di samping sungai.

Pasanggrahan adalah pelabuhan utama perahu-perahu niaga. Pasanggrahan juga sebagai pelabuhan bagi arus distribusi gula. Hasil produksi PG Kadipaten di distribusikan melalui sungai Cimanuk & Ciiwung, melalui Indramayu ke pantai utara jawa dengan tujuan Batavia (Jakarta).


Pada saat pelabuhan Pasanggrahan dikuasai oleh Ko Pek Lan/ Babah Pek Lan. Ia adalah penguasa Cina yang menguasai Kadipaten. Ko Pek Lan melakukan kongsi dengan koleganya Eng Kit mengatur perdagangan di Pasanggrahan.
Kekuatan ekonominya mengalahkan kakuatan Belanda dlm mengendalikan alur bisnis produksi gula. Maka Ko Pek Lan hadir sebagai pengusaha yg memberikan suntikan dana untuk PG. Transaksi perdagangan pada saat itu tidak menggunakan uang goeng/ uang logam tapi uang kertas.

Kota Pasanggrahan akhirnya dikuasai oleh warga Cina pendatang. Mereka jadi penguasa ekonomi, sementara warga desa menempti blok Dayeuh Kolot.
Oleh karena terjadinya perubahan struktur geologi tanah akhirnya kota Pasanggrahan terendam. Seluruh warga kota Pasanggrahan ngungsi. Begitu pun dengan warga Dayeuh Kolot yg sama-sama terkena imbas luapan air sungai terpksa mengungsi. Mereka membuka lahan baru utk pemukiman yaitu Babakan Baru/ tempat pemmukiman baru.
Mereka menempati kampong baru Babakan Sinom. Babakan Sinom memiliki warga baru dgn jml banyak. Akibatnya muncul nama baru(anyar) utk Babakan Sinom yaitu Babakan Anyar.
Akhirnya Pasanggrahan dinyatakan sebagai The Lost City atau Kota Yg Hilang. Terlebih lagi setelah dibangunnya DAM Rentang Jati7, tidak ada lagi perhu-perahu dari Indranayu yang bias masuk ke wilayah ini.

Apalagi setelah munculnya kendaraan-kendaraan bermotor lalu lintas ekonomi di sungai menjadi tidak berarti lagi. Pengangkutan barang seperti garam,gula,padi & tebu dialihkan ke jalur darat. Apabila dikaitkan dengan asal usulnya, Babakan Anyar merupakan daerah hasil pemekaran dari desa Karangsambung. Daerah ini pada awalnya merupakan daerah kekuasaan Demang Karangsambung.

Nama Babakan Anyar sendiri resmi menjadi nama desa pada saat desa ini diPimpin kuwu Warsita. Daerah Babakan Anyar sempat menjadi sasaran tentara Belanda.
Desa Babakan Anyar memiliki 3 situs atau cagar budaya berupa makam kramat. Terdiri atas Makam Kramat Buyut Siwalan, Buyut Anis & Buyut Gabug.

Babakan Anyar sekarang dihuni oleh 2178 jiwa penduduk. Suatu jumlah yang sangat tidak sebanding dengan desa tetangganya yang mencapai 6X lipat jumlah tersebut. Hal ini menisbikan/ membiaskan kejayaan Babakan Anyar sebagai daerah yang pernah menjadi kota pelabuhan penting di JaBar.

21. ASAL USUL KERTABASUKI

A. Riwayat Desa Kertabasuki
Dimana bangsa Indonesia di jajah oleh bangsa Belenda yang pertama, para pejuang dari Banten banyak sekali yang dating melatikan diri dating ke Majalengka.
Konon kabarnya, pada waktu itu datanglah esorang pejuang dari Banten yang bernama K.H. Tubagus Bunyamin bersama Sultan Tubagus Zaenal Asyikin ( salah seorang keturunan Sultan Hasanudin yang ke-7 dan atau keturunan Nabi Muhamad SAW yang ke-35) datang kesalah satu tempat di daerah Majalengka tempat tersebut sekarang bernama desa Kawunggirang.

K.H. Tubagus bunyanmin dating ke tempat tersebut selain menjauhkan diri dari incaran pemerintah Belanda, beliau juga bertujuan untuk menyebarkan agama Islam, yang pada waktu itu di tempat tersebut penghuninya masih kurang dalam melaksanakan syriat Islam.Dan supaya jangan sampai tertangkap oleh pemerintah Belanda, beliau bergati nama ngan julukan K.H Tubagus Kacung.

K.H. Tubagus Kacung menikah dengan salah seorang putri Kiayi Sayun Falah seorang penghuni tempat tersebut sebagai hasil pernikahannya beliau di karuniai seorang anak yang di beri nama Tubagus Sholeh.

Tubagus Sholeh setelah dewasa dan berumah tangga, kemudian beliau membuka pasantren di salah satu tempat sebelah barat desa Kawunggirang. Letak tempat desa (pasantren) yaitu sebelah barat desa Pasantren (sekarang wilayah desa Kertabasuki).Beliau mempunyai 3 orang putra putri, 2 orang putra di beri nama Munara dan Munari serta seorang putri yang di beri nama Munirah.

Selain di buka pesantren di tempat tersebut, tempat yang tadinya sepi dan kurang maju berubah menjadi salah satu tempat subur makmur serta tempat tersebut harum namanya sampai terdengar ke daerah lain.

Konon kabarnya, keharuman tempat tersebut terdengar oleh penghuni kota Cirebon. Salah satunya adalah K.H. Abu Bakar putra Den Nayu Kamiran, cucu Syarif Hidayatullah. Keduanya dating ke pesantren itun sambil membawa rupa-rupa dagangan. Beliau mempunyai magsud tujuan pokok yaitu ingin membantu usaha yang sedang dirintis oleh Tubagus Sholeh agar menjadi lebih pesat dan majunya agama Islam.
Lama kelamaan K.H. Abu Bakar dijadikan menantu oleh K.H Tubagus Sholeh dan di tikahkan dengan putri yang bungsu yang bernama Siti Munirah.

Setelah K.H. Abu Bakar berumah tangga dengan Siti Tibagus Munirah, situasi tempat tersebut semakin ramai, maju, subur, makmur serta penghuninya selalu penuh terjamin kesehatannya. Di saat itulah K.H. Tubagus Sholeh mengatur, tata cara pemerintahan dan tatanan kehidupan seluruh penghuninya secara bijaksana. Dan akhirnya tempat tersebut di beri nama KARTABASUKI. Adapun arti dari Kartabasuki, yaitu :
-Karta :damai, maju, subur makmur
-Basuki :sehat wal afiat
-Kertabasuki :Desa yang damai serta maju dan subur makmur serta penghuninya terjain kesehatannya
Tetapi sekarang, desa kertabasuki lebih di kenal dengan sebutan Kertabasuki.
H.Abu bakar mempunyai 8 orang anak, 3 orana perempuan dan 5 orang anak laki-laki dengan urutan yaitu :
1. Jenab 5. Praja
2. Mujenah 6. Abdul Syukur
3. Biah 7. Sujana
4. Asral 8. Kalektor

22. ASAL USUL SINGKAT KOTA MAJA

Kira-kira abad ke XVI masehi, dikenal kuburan disebelah selatan kota Maja sekarang, telah berdiri sebuah pesantren bernama “PESANTREN DAHU PUGUR” yang berbentuk perkampungan kecil, yang terletak di dekat kali Cilongkrang.
Pesantren tersebut dipimpin oleh seorang ulama yang bernama Syekh Absul Jalil yang berasal dari Cirebon bersama dengan seorang temannya yang bernama Bapak Kelindur.
Syekh Abdul Jalil kemudian berganti nama dengan julukan “Dalem Sukahurang” . Pada beliau sedang bersama bapak Kelindurmembangun pesantren Dahu Pugur, beliau sangat perihatin karena banyak rintangan dan gangguan yang tidak diketahui siapa dan dari mana pengganggunya. Maka Dalem Sukahurang bertapa diatas pohon Dahu sehingga bagian atas pohon itu “patah” atau “pugur”. Itulah sebabnya pondok pesantren ini diberi nama “DAHU PUGUR”.

Ditinjau dari segi geografis letak pesantren itu sangat strategis sekali karena di pinggir pesantren mengalir air Cilongkrangyang dikelilingi bukit-bukit yang subur dilereng Gunung Ciremai. Hal ini menjadikan penghuni pesantren menjadi betah karena bisa bercocok tanam sepanjang tahun.
Berkat kealiman Dalem Sukahurang dalam memimpin pesantren serta keuletan beliau, maka dalm waktu yang relatip singkat nama pesantren Dahu Pugur sudah terkenal diluar daerah Maja. Sehingga banyak orang orang dari luar daerah berdatangan untuk menuntut ilmu di pesantren tersebut, terutama dari daerah Talaga yang pada waktu itu Talaga baru masuk islam.

Pada waktu itu Sunan Talagamanggung mendengar bahwa pesantren Dahu Pugur sangat termashur, maka untuk membuktikannya Sunan Talagamanggung memerintah seseorang putranya yang bernama RadenMahmud Ridwan.

Raden Mahmud Ridwaan datang di Pesantren Dahu Pugur, disambut dengan baik oleh Dalem Sukahurang dan para santrinya. Sampai di pesantren Dahu Pugur, Raden Mahmud Ridwan mengadakan rundingan dengan pemimpin pesantren tersebut, untuk membentuk pemerintahan baru yang dipimping oleh Raden Mahmud Ridwan, dan para ponggawanya dari Talagamanggung. Waktu Rden Mahmud Ridwan menjadi pemimpin Dahu Pugur, Aji Sanghiang Rangkah mengadakan seranagan terhadap pesantren Dahu Pugur kemudian pesantren Dahu Pugur mengadakan perlawanan terhadap serangan dari Aji Sanghiang Rangkah tadi dengan senjatanya yang diberi nama Salam Nunggal.

Sekarang pemimpin Dahu Pugur itu Raden Kiswan, Maka pada waktu itu dia dipilih secara aklamasi untuk dijadikan patih Dalem Sukahurang. Kemudian ia diberi gelar Raden Aria Patih Dalem Cucuk. Berkat kemenangan Raden Kiswan di Dewan Penasehat Pemerintah yang baru di Maja. Yang kemudian Dalem Sukahurang membuat susunan pemerintahan dan menyepakatinya, serta pemerintah yang baru itu duberi nama “MAJA JAYA” sebagai lambang kemenangan Dahu Pugur.

Dalam perkembangan selanjutnya karena bertambahnya jumlah penduduk Deasa Maja, sesuai dengan roda perkembangan zaman dan peraturan pemerintahan pada waktu itu, maka sejak tahun 1981 Desa Maja dipecah menjadi dua Desa yaitu dengan Desa Maja Utara yang dipimpin oleh kepala desa Bapak Djalil ,Maja Selatan yang dipimpin oleh Kepala Desa Bapak Otong Rukmita. Padapemilihan Kepala desa Maja Utara yang pertama pada tahun 1984, terpilih yang menjadi Kepala Desanya yaitu Bapak ARUJI PRIATNA.

23. ASAL USUL KOTA TALAGA

Berdirinya Kerajaan Talagamanggung

Nun jauh di lereng Gunung Ciremay sebelah selatan, di sekitar Desa Sangiang Kecamatan Talaga Kabupaten Majalengka, berdiri satu Negara yang disebut dengan Kerajaan Kerajaan Talaga. Yang pertama-tama mendirikan dan mengolah Negara tersebut yaitu Batara Gunung Picung, putera keenam Ratu Galuh Ajar Sukaresi atau disebut juga Maharaja Sakti Adimulya (1252 � 1287 M).

Adapun Ratu Galuh Ajar Sukaresi sendiri mempunyai delapan putera/puteri dari isteri beliau yang berlain-lainan. Nama-nama mereka itu adalah:
1. Prabu Hariangbanga: Menurunkan para raja di daerah Jawa Timur, seperti Prabu Brawijaya II sampai Prabu Brawijaya V;
2. Maharajasakti: Menurunkan para raja di tanah Pajawan;
3. Prabu Ciungwanara (1287 � 1303 M): Menurunkan para raja di Pakuan dan Pajajaran;
4. Ratu Ragedangan;
5. Prabu Haurkuning, Maharaja Ciptapermana I (1580 � 1595 M);
6. Batara Gunung Picung (1595 � 1618); Menurunkan Raja-Raja Talaga;
7. Ratu Permana Dewa; dan
8. Bleg Tamblek Raja Kuningan.

Adapun Batara Gunung Picung (Ciptaperman II) beliaulah yang menjadi Raja pertama di Talaga (Talagamanggung), dari beliau itu pula menurunkan:
1. Sunan Cungkilak;
2. Sunan Benda;
3. Sunan Gombang;
4. Ratu Ponggang Sang Romahiyang; dan
5. Prabu Darmasuci I.

Prabu Darmasuci I
Prabu Darmasuci I mempunyai dua orang putera yang akan melanjutkan silsilah Kerajaan Talaga pada masa berikutnya, dua orang putera beliau itu adalah:
1. Bagawan Garasiang; dan
2. Prabu Darmasuci I (Prabu Talagamanggung).

Bagawan Garasiang
Putera sulung Prabu Darmasuci I adalah Begawan Garasiang, beliau adalah orang yang gemar bertapa dan merenung sehingga beliau menjadi seorang Begawan Hindu Kahiyangan. Ia mendirikan padepokan di satu gunung kecil yang disebut Pasir Garasiang, terletak di daerah perbatasan antara Kecamatan Argapura dan Talaga sekarang. Beliau mempunyai puteri yang bernama Ratu Putri Mayangkaruna, yang kemudian diperistri oleh Prabu Mundingsari Ageung, putera Prabu Siliwangi II (Raden Pamanah Rasa)[2] dari Pajajaran.

Kalau kita perhatikan, dengan adanya pernikahan Putri Talaga dan Putra Pajajaran, ini adalah hukum yang tidak tertulis akan tetapi menjadi ciri khas langkah strategis dan politis raja-raja Pasundan untuk mempertahankan keutuhan Negara dan ikatan kekeluargaan melaui jalan pernikahan di antara para penguasa wilayah Pasundan. Dengan memperhatikan asfek-asfek penting inilah sikap silih asih, silih asah, silih asuh akan terekat kuat.
Prabu Darmasuci II (Prabu Talagamanggung)
Prabu Darmasuci II (Prabu Talagamanggung) bersemayam di Talaga, keraton beliau terletak di Sangiang, dengan panorama situ keraton yang indah yang disebut Situ Sangiang. Menurut catur para sepuh Talagamanggung adalah seorang Narpati yang sakti mandraguna dan weduk (tidak tembus senjata). Beliau mempunyai sebuah senjata pusaka yang diberi nama CIS, bentuknya seperti tombak kecil atau sekin. Konon, bahwa beliau ketika lahir tidak memiliki pusar seperti halnya orang pada umumnya. Menurut ceritera pula Prabu Talagamanggung hanya mempan ditembus senjata oleh senjata CIS-nya itu.

Pada masa pemerintahan Prabu Talagamanggung Kerajaan Talaga mengalami kemajuan yang gilang-gemilang dan kondisi sosial masyarakatnya semakian tentram dan mapan. Dengan demikian banyak orang yang berasal dari negara dan daerah lain ikut menetap di Talaga.

Prabu Talagamanggung mempunyai seorang menantu yang berasal dari Bangsawan Palembang yang bernama Palembangunung (suami Putri Dewi Simbarkancana), pada suatu kesempatan Palembanggunung mengadakan gerakan bawah tanah untuk merebut kekuasaan dari mertuanya. Akhirnya Palembanggunung dengan komplotannya, melalui oleh seorang pengawal pribadi Sang Prabu, Centrangbarang (yang ditugaskan mengurus senjata) ia berhasil mencuri senjata CIS tersebut dan memberikannya kepada Palembanggunung yang kemudian digunakan untuk menusuk tubuh Sang Prabu. Dalam peristiwa itu Prabu Talagamanggung terluka dan kemudian tubuhnya menjadi lemas dan akhirnya meninggal. Jenazah beliau diurus sesuai ajaran Agama Hindu Kahiyangan, abu jenazahnya di larung di Situ Sangiang[3].

Pada masa hidupnya, Prabu Talagamanggung mempunyai satu orang putera dan satu orang puteri; Raden Panglurah dan Raden Dewi Simbarkancana.

Raden Panglurah
Dari usia kecil ia sudah rajin melatih diri, berangkat ke Gunung Bitung[4], beliau bertapa di bekas bertapa uyut beliau, Ratu Ponggang Sang Romahiyang. Raden Panglurah[5] adalah seorang sosok putera penguasa (raja) yang memiliki sifat-sifat zuhud, meninggalkan kesenangan dunia) dan lebih memilih untuk mengolah jiwa dan mengembangkan asfek-asfek spiritual yang telah dikaruniakan Tuhan kepadanya. Dalam kata lain Radan Panglurah lebih memilih ketentraman dan kesenangan runani serta penghambaan kepada Tuhan Semesta alam.

Raden Dewi Simbarkancana
Raden Dewi Simbarkancana walaupun seorang puteri beliau banyak memiliki sifat-sifat kepemimpinan yang diwarisi ayahanda beliau, Prabu Talagamanggung. Beliau menikah dengan Palembanggunung, Pepatih kerajaan. Pada mulanya Dewi Simbarkancana tidak mengetahui bahwa kematian ayahanda beliau itu didalangi suaminya sendiri, akan tetapi sabuni-bunina mungkus tarasi lambat laun kebusukan sang suami diketahui juga oleh beliau. Sepeninggal Prabu Talagamanggung, Kerajaan Talaga untuk sementara waktu dikuasai oleh Palembanggunung.

Dewi Simbarkancana merasa sangat terpukul, beliau ceurik balilihan[6] (menangis dengan sangat menderita batin) karena dua hal: pertama, karena beliau dihianati oleh suami beliau sendiri; yang kedua, karena ditinggal oleh ayahanda tercinta dengan peristiwa yang memilukan. Menurut beliau, siapa orangnya yang tidak berduka hati ketika ditinggal sang ayah. Ayahanda beliau, sesorang yang sudah berbuat baik mengangkat derajat Palembanggunung dibalas dengan perilaku yang sangat keji. Air susu dibalas air tuba itulah yang terjadi. Akhirnya dengan keberanian beliau, Dewi Simbarkancana berhasil membunuh Palembanggunung dengan susuk kondenya.
Selanjutnya Raden Dewi Simbarkancana menikah dengan Raden Kusumalaya (Raden Palinggih) dari keraton Galuh, putera dari Prabu Ningrat Kancana. Beliau adalah seorang yang masagi pangarti (cakap lahir batin), seorang tabib dan ahli strategi. Beliau berhasil menumpas tuntas gerakan bawah tanah Palembanggunung dan komplotannya, dengan demikian kekuasaan dapat diambil kembali, keamanan dan ketertiban negara kembali menjadi stabil dan kokoh.

Dari pernikahan Dewi Simbarkancana dengan Raden Kusumalaya membuahkan delapan orang putera, yaitu:
1. Sunan Parung (Batara Sukawayana);
2. Sunan Cihaur, (Mangkurat Mangkureja);
3. Sunan Gunung Bungbulang;
4. Sunan Cengal (Kerok Batok);[7]
5. Sunan Jero Kaso;
6. Sunan Kuntul Putih;
7. Sunan Ciburang; dan
8. Sunan Tegalcau.[8]

Perpindahan Pertama Pusat Kerajaan (ke Walangsuji)
Menyusul kekacauan yang menimpa keraton Sangiang, yakni dengan adanya rajapati terhadap Prabu Talagamanggung dan pemberontakan yang didalangi sang menantu durhaka, hal ini mendorong Ratu Simbarkancana untuk memindahkan pusat kerajaan dari tutugan Gunung Ciremay ke Walangsuji, di Desa Kagok, Kemantren Banjaran, Kecamatan Talaga sekarang.

Pusat pemerintahan di Walangsuji nampaknya tidak begitu lama, boleh dikatakan hanya selama ngulub waluh. yakni pusat kerajaan hanya bertahan di Walangsuji selama tujuh tahun tiga bulan[9]. Setelah Penguasa Talaga memandang dari berbagai segi akhirnya diputuskanlah bahwa Walangsuji kurang strategis untuk tetap dijadikan pusat pemerintahan Kerajaan Talaga sehingga pusat karajaan harus segera dipindahkan kembali.

Perpindahan KEDUA Pusat Kerajaan (ke Parung)

Sepeninggal Ratu Simbarkancana, Kerajaan Talaga dipegang oleh putera sulung beliau yang mendapat julukan Sunan Parung (1450 M). Setelah Sunan Parung mangkat, pemerintahan diserahkan kepada satu-satunya puteri beliau yang bernama Ratu Dewi Sunyalarang (1500 M) yang di kemudian hari mendapat julukan Ratu Parung.


Dewi Sunyalarang (Ratu Parung) menikah dengan Raden Ragamantri, putera Prabu Mundingsari Ageung dari Ratu Mayangkaruna. Raden Ragamantri adalah cucu dari Begawan Garasiang dan juga cucu dari Prabu Siliwangi II (Jaya Dewata atau Pamanah Rasa). Pada masa pemerintahan Dewi Sunyalarang inilah pusat kerajaan dipindahkan ke Parung. (Bersambung ke: Sejarah Ringkas Kerajaan Talaga Setelah Masuknya Islam)
[1] Letak kuburan Raden Raga Mantri, cucu Bagawan Garasiang dan Raden Pamanah Rasa terletak di luar bangunan yang biasa dipakai tahlilan para penziarah, di bawah pohon besar dengan tiga buah batu biasa sebagai batu nisannya, sesuai pesan spiritual beliau. Peletakan batu nisan penulis lakukan dibantu oleh kuncen situs, Bapak H. Emod dan sahabat penulis Suharto.

[2] Kata Siliwangi berasal dari kata Silih yang berarti pengganti atau penerus dan Wangi yang berarti wangi atau harum. Dengan demikian, makna dari nama Prabu Siliwangi mempunyai pengertian bahwa beliau adalah Pengganti atau Penerus Prabu Wangi (Wangisutah) yang gugur di alun-alun Bubat Majapahit (sekarang terletak di Kec.Trowulan Kab.Mojokerto) pada tahun 1357 M dalam mempertahankan kehormatan dan wibawa Kerajaan Pajajaran. Ketika itu, rombongan dari Pajajaran bermaksud untuk mengawinkan puteri beliau Putri Diyah Pitaloka dengan Raja Hayam Wuruk atas pinangan Sang Raja. Ketika itu rombongan calon penganten perempuan berhenti dan membuat pasangrahan di alun-alun Bubat sambil menunggu jemputan Raja Hayam Wuruk (calon penganten laki-laki). Rupanya niat mulia Prabu Wangi (Wangisutah) dan Raja Hayam Wuruk tidak dikehendaki oleh Patih Gajah Mada, ia mengadakan "gerakan rahasia" yang tidak diketahui oleh rajanya sendiri. Gajah Mada dengan pasukannya yang sangat besar mengepung dan menyerbu rombongan calon pengantin perempuan sehingga menyebabkan gugurnya Sang Mokteng Bubat (Prabu Wangi), Putri Diyah Pitaloka dan para pengawalnya. Adapun sebutan Prabu Siliwangi I adalah Prabu Wastu Kencana yang memindahkan pusat Kerajaan Pajajaran dari Kawali (Ciamis) ke Pakuan (Bogor). Pada masa pemerintahan Prabu Wangi, Prabu Siliwangi I dan Prabu Siliwangi II Kerajaan Pajajaran dibawah satu kekuasaan atau dalam kata lain Pasundan Timur dan Pasundan Barat bersatu di bawah satu Raja. Pasca Rahiyang Wastu Kencana, Kerajaan Pasundan terbagi dua; yakni Kerajaan Pajajaran yang berpusat di Ciamis dibawah kekuasaan Ningrat Kancana dan Kerajaan Pakuan yang berpusat di Bogor di bawah kekuasaan Prabu Susuktunggal. Pada masa Prabu Siliwangi II itulah Pasundan bersatu lagi menjadi Pakuan Pajajaran yang berpusat di Bogor.

[3] Menurut Babad Talaga, setelah peristiwa pembunuhan itu Prabu Talagamanggung beserta keratonnya ngahiyang (menghilang) dan menjadi Situ Sangiang sekarang. Menurut penulis sendiri, arti "ngahyiang" itu tidak lain melainkan Inna lillahi rājiūn wa inna ilahi rājiūn dalam arti Kembali Ke Sang Hiyang (Tuhan) dan bukan tilem.

[4] Gunung Bitung tepatnya sebelah selatan Talaga, Desa Wangkelang, Kecamatan Cikijing, Kabupaten Majelangka. Tempat pertapaan Raden Panglurah sampai sekarang sering diziarahi orang.

[5] Penulis merasa prihatin karena Patung Raden Panglurah hingga sekarang masih berada di negeri Belanda, adapaun patung adik beliau Bunda Raden Dewi Simbarkancana masih ada dan terawat baik di Talaga.

[6] Istilah ceurik balilihan dan makna beberapa kata berikutnya adalah dari Bunda Dewi Simbarkancana sendiri, diberitahukan beliau kepada penulis secara spriritual pada tanggal 28 Januari 2008, kira-kira pukul 20.45 WIB.
[7] Petilasannya masih terdapat di Desa Cengal, kira-kira 1 km Kampung Cadas, Desa Anggrawati, Kecamatan Maja-Majalengka.

[8] Petilasannya terdapat di Blok Galumpit (Tegal Cawet) Desa Tegalsari-Maja.

[9] Angka 7 tahun 3 bulan ini berdasarkan keterangan Bunda Ratu Simbarkancana, pada tanggal 27 Januari 2008 yang disampaikan secara spiritual kepada penulis.

24. LAHIRNYA MAJALENGKA DAN MISTIK NYAI RAMBUT KASIH

Siapa yang tak kenal raja pajajaran ini? Dilah sosok yang adil dan bijaksana, juga sakti mandraguna, raja yang paling disegani di tanah jawa, khususnya di tatar Pasunda. Siapakah dia? Dialah Sri Braduga Prabu Siliwangi.

Prabu Siliwangi mempunyai isteri yang ketiga, namanya Ibu Ratu Munding Kalalean. Dari hasil perkawinan mereka dianugrahi tiga orang putra dan satu orang putri, yaitu : 1. Walang Sungsang, 2. RaraSantang, 3. KianSantang, 4. Syeh Nurjati. Putra nomor empat yaitu Syeh Nurjati memperistri Ibu Ratu Siti Maningrat. Dari hasil buah perkawinannya dikaruniai dua orang putra dan satu orang putrid, yaitu : 1.Dalem Rangga Wulan Jaya Hadi Kusuma, 2.Permana Sakti Jaya Hadi Kusuma, 3.Sri Ratu Purbaningsih.

Abad ke 14 atau tahun 1405 Masehi, Syeh Nurjati memanggil semua anaknya untuk memberikan tugas. “Kalian semua harus mempunyai dan membuat sejarah (riwayat) agar kelak kemudian hari cikal bakal serta generasi penerus akan mengenang kalian bertiga. Sekarang juga kalian harus berangkat kearah barat sebelah utara gunung ciremai. Carilah oleh kalian pohon maja kalau sudah ditemukan kalian bertiga membuka dan membuat satu daerah kekuasaan disana.” Demikianlah sabda Syeh Nurjati.
Sesuai menerima tugas dari ayahandanya, seketika itu juga anak itu terus berangkat membawa dua orang masih banyak pekerjaan yang harus dituntaskan. Kendati dilarang, Sri Ratu Purbaningsih tetap memaksa pergi ke Cirebon tanpa sepengetahuan kakaknya dengan jalan terbang melesat keatas langit. Namun, karena tidak mendapatkan ijin dari kakaknya Sri Ratu jatuh di Curungan (sekarang CiCurug). Selanjutnya kedua kakaknya menyusul guna mencari Sri Ratu. Mereka rupanya takut terjadi apa-apa yang akan menimpa adiknya. Kira-kira jam 10 pagi mereka tiba ditempat (Cicurug) Dalem Rangga bertanya kepada adikya Dalem Permana,”Bagaimana Permana, apakah ketemu adikku ?”

Dalem Permana pun menjawab,”langkah Kang (Tidak ada, Kak)!”
Dari dialog tersebut diambil satu kesimpulan bahwa kata “Majalengka” berasal dari pohon maja yang diketemukan didaerah Maja, dan langka diambil dari jawaban Dalem Permana saat mencari adiknya Sri Ratu Purbaningsih. Dari kedua kata tersebut mka lahirlah kata Majalengka, yang akhirnya berubah karena pelafaln lidah masyarakat Pasundan menjadi Majalengka.
Sekitar pukul 12 siang Sri Ratu Purbaningsih mengetahui dirinya tengah dicari oleh kedua kakaknya.”Nyai, disini, Kng!” Sri Ratu berteriak.
“Kamu tidak apa-apa Nyai?”Tanya Dalem Rangga.
Tidak, Kang! Sekarang kita bertiga membangun di sini saja, biarlah paman Pinamgeran Patih dan paman Parung Jaya memberekan pembangunan di Maja atas,” ujar Sri Ratu.
“Nyai Ratu jangan pulang dulu ke Cirebon,”Ujar Dalem Rangga. Sri Ratupun mengangguk memberikan isyarat tanda setuju kepada kakaknya bahwa ia tidak akan pergi ke Cirebon.
Tak terasa waktupunbergulir dengan cepat, sudah Sembilan bulan lamanya ketiganya anak Syeh Nurjati dan kedua pengawalnya inggal di Majalengka. Hari Rabu tanggal 17 Rajab tahun 1405 Masehi, Prosesi Majalengka tuntas, kemudian ketiga anak Syeh Nurjati bermusyawarah mengenal kepengurusan dan kedudukan jabatan agar Majalengka mempunyai status pemerintahan. Hasil dari musyawarah tersebut pada hari Selasa tanggal 3 Maulud tahun 1405 Masehi ditetapkan sebagai berikut :
Ratu Purbaningsih : Menduduki jabatan sebagai Mahkamah Agung
Dalem Permana : Menduduki jabatan sebagai Jaksa Agung
Dalem Rangga : Menduduki jabatan sebagai Bupati
Pinangeran Putih : Menduduki jabatan sebagai Wedana
Surawijaya : Menduduki jabatan sebagai Kepala Keamanan
Surya Nanggeuy : Menduduki jabatan sebagai Kepala Staf
Parung Jaya : Menduduki jabatan sebagai Staf
Sementara itu, Sembilan bulan lebih kepergian ketiga anaknya tidak ada kabar berita. Ini membuat Syeh Nurjati sebagai ayahanda di Cirebon merasa resah dan gelisah terus -menerus. Agar tak resah dan gelisah hati seorang ayah ketiga anaknya, Syeh Nurjati memberikan perintah kepada Pangeran Muhammad mencari dan menelusuri keberadaan ketiga anaknyayang sedang membuka daerah kekuasaan di arah Barat sebelah Selatan Gunug Ciremei itu.
Setelah menerima perintah dari Syeh Nurjati, Pangeran Muhammad langsung berangkat. Dalam waktu bersamaan pula Dalem Rangga pergi ke Cirebon untuk menemui ayahandanya guna melaporkan bahwa selama ini titah dan keinginan ayahandanya telah terpenuhi. Setibanya di Cirebon ayahandanya menjemput dan memeluk sambil berkata, “Rangga, ayah sangat resah dan gelisah kepada ketiga anak-anak ayah, tak terasa sudah Sembilan bulan lamanya tidak bertemu, takut terjadi apa-apa. Terpaksa ayah memerintahkan ajudan ayah (gandek-B. sunda) Pangeran Muhammad untuk mencari kalian. Apakah kamu tidak bertemu dengannya dijalan?”
“Tidak, ayah!” ujar Dalem Rangga. Rupanya, antara Pangeran Muhammad dan Dalem Rangga terjadi perselisihan jalan.
Lalu, Dalem Rangga menceritkan keberhasilan misi yang diembannya bersama kedua adiknya.
“Sekarang kita memberitahukan kepada gusti sinuhun kalu daerah itu sudah diketemukan, dan sudah diberi nama Majalengka,” ujar Syeh Nurjati setelah mendengar laporan itu.
Di lain pihak, Paneran Muhammad tiba di Majalengka tanggal 10 hari Selasa Wage tahun 1405 Masehi, dan tanggal 11 hari Rabu Kliwon tahun 1405 Masehi Pangeran Muhammad menghadap Nayi Ratu.
“Paman diutus oleh ayahanda Nyai Ratu bahwa Nyai Ratu harus segera pulang ke Cirebon,” ujar Pangeran Muhammad.
“Nyai tidak akan pulang paman. Paman juga tidak usah kembali lagi ke Cirebon, lebih baik mencari dan harus menemukan daerah (riwayat), tapi yang terlalu dekat dengan daerah Nyai, silahkan mencari ke arah Barat saja,”ucap Nyai Ratu.
Pangeran Muhammad pun mengangguk menuruti perintah Nyai Ratu.
Hari kamis tanggal 12 mulud tahun 1405 Masehi, Dalem Rangga kembali ke Majalengka dan mengundang kedua adiknya yang bermaksud untuk meresmikan daerah temuannyaitu. Peresmian itu akan dihadiri oleh ayah beserta ibunya.
Tanggal 15 hari Selasa kliwon tahun 1405 Masehi Syeh Nurjati dan Ratu Siti Maningrat tiba di Majalengka, saat itu kebetulan pula Ratu Siti Maningrat sedang hamil 9 bulan. Ketika diperjalanan perutnya terasa mulas mau melahirkan, belum tiba ditempat tujuan, Ratu Siti Maningrat melahirkan dijalan sambil bersandar dipohon jati. Selendang Ratu Siti Maningrat dikaitkan diranting besar. Ratu Siti Maningrat melahirkan seorang bayi laki-laki dinami Raden Sofyan Permana Hadikusumah, hingga peristiwa tersebut terkenal dengan nama jalan Jatisampay.
Syeh Nurjati dan Ratu Siti Maningrat berada di Majalengka satu minggu lamanya, dan kembali ke Cirebon sambil membawa bayi. Dalam usia tujuh tahun Raden Sofyan Permana Hadikusumah ditinggal wafat ibunya. Sejak usia tujuh tahun hingga empat puluh tahun Raden Sofyan Permana Hadikusumahikut dengan kakaknya, Nyai Ratu Purbaningsih.
Demikianlah sejarah singkat Majalengka. Kini Majalengka menjadi pemerintahan berbentuk kabupaten. Kabupaten Majalengka terletak disebelah Timur Provinsi Jawa Barat. Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Indramayu, sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Ciamis, sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Sumedang, dan sebelah Timur berdekatan dengan Kabupaten Cirebon.
Secara Geografis Kabupaten Majalengka di antara 180°-109° Bujur Barat dan 10°-7° Lintang Selatan, mempunyai dimensi terjauh antar Utara-Selatan berjarak kira-kira 52 km, Barat-Timur kira-kira 42 km. Luas Kabupaten Majalengka 120.424 Ha terdiri dari 23 kecamatan dan 327 desa/kelurahan. Desa-desa tersebut digolongkan ke dalam desa swasembada dan sebagian kecil digolongkan ke desa swakarya.
Kelak, Sejarah Majalengka erat kaitannya dengan cerita mistik Nyai Rambut Kasih, sebuah legenda masyarakat yang Selama ini menjadi sangat fenomenal.

25. SEJARAH SINGKAT BERDIRINYA KECAMATAN LEMAHSUGIH

Sejak jaman penjajahan Belanda, Desa Lemahputih sudah menjadi pusat perekonomian di Majalengka dan wilayah priangan. Kegiatannya berupa perkebunan, yaitu kebun teh, kopi, dan kina. Perkebunan teh dan kopi lengkap dengan sarana pengolahannya, akibat penjajahan Jepang keadaan pabrik dan perkebunan rusak dan hancur.

Pada tahun 1952 Kecamatan Bantarujeg terdiri dari 24 desa dengan lokasi sangat berjauhan, atas prakarsa Bupati Nur Atma Dibrata dimekarkan menjadi kemantren Lemahsugih yang meliputi 10 desa antara lain Desa Lemahputih, Padarek, Kalapadua, Sadawangi, Kepuh, Cigaleuh, Cipasung, Bangbayang, Cibulan dan Desa Borogojol, dengan Ibu Kota Kecamatan di Lemahputih.

Ibu Kota sering menjadi sasaran serangan gerombolan DI/TII, atas kerjasama antara rakyat, pemuda, pamong desa, OKD, Polisi Pamong Praja, dan ABRI Batalion 309/ 11 April Kompi V Pandawa mengadakan pagar betis yang akhirnya dapat di tumpas pada tahun 1961/1962.

Bekas persembunyian DI/TII di Cigorowong pada tahun 1964 diadakan proyek pertanian Sunan Gunung Jati yang dilaksanakan oleh para Purnawirawan ABRI Kodam III Siliwangi yang selanjutnya menjadi lokasi translok sampai sekarang.
Berdasarkan atas keputusan Bupati Majalengka tanggal 16 Januari 1966 kemantren Lemahsugih diresmikan menjadi Kecamatan Lemahsugih dengan Ibu kota Kecamatan berkedudukan di Padarek. Dengan latar belakang sejarah dan pendirian Kemantren di Lemahputih pada tahun 1969 Ibu Kota Kecamatan dipindahkan kembali ke Lemahsugih.
“Lemahputih sama dengan tanah yang bersih“, “Lemahsugih sama dengan tanah yang kaya/subur“.

Dengan harapan bahwa dari tanah yang bersih akan melahirkan tanah yang kaya/subur.

26. LEGENDA BEBERAPA DAERAH DI DESA LOJIKOBONG

Tempat Menurut cerita beberapa nama di wilayah desa lojikobong ini ada cerita menarik yang berkaitan dengan nama tersebut, dalam hal ini penulis mencoba untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan adapun kebenarannya wallahu alam.

1. Asal mula Dukuh Malang Jati Dongkal dan Jati Nutug
Pada waktu itu sedang terjadi perang tanding dua ksatria yang berilmu kedigjayaan tinggi di salah satu daerah susukan yang sekarang bernama kadongdong, setelah sekian lama berperang tidak ada yang kalah ataupun menang, salah satu ksatria mencabut pohon jati yang sangat besar, lalu di lemparkan kearah lawannya dengan menggunakan seluruh kekuatannya, si lawan menghindari dan pohon jati itu melesat terbang kearah barat hingga akhirnya jatuh di desa Lojikobong dengan posisi membujur. menurut sesepuh desa daerah tempat jatuh nya akar di sebut Jatidongkal berada daerah dukuh mencil (sekarang), adapun tempat dahan dan batang nya yang membujur / malang (basa sunda) hingga kini daerah tersebut bernama Dukuh malang, dan tempat jatuhnya pucuk pohon jati di beri nama Jati nutug karena jatuhnya nutug (nancap).

2. Dukuh Pabrik
Dukuh Pabrik atau Dusun minggu adalah sebuah blok yang terletak di sebelah barat daya desa Lojikobong, di beri nama dukuh pabrik konon ceritanya pada jaman belanda di daerah ini berdiri sebuah pabrik pencelupan benang / kain milik pemerintah Hindia belanda. Akhirnya hingga kini daerah ini bernama Dukuh pabrik walaupun pabrik tersebut sudah tidak ada.

3. Dukuh sinden dan Ki Ireng
Dukuh sinden atau blok rebo adalah wilayah desa Lojikobong yang ada di sebelah selatan. nama sinden di ambil dari kegemaran seorang istri demang yang suka melantunkan lagu lagu / kidung, dalam bahasa sunda di sebut nyinden. Maka daerah ini lebih akrab di sebut dukuh sinden.

Adapun daerah Ki Ireng menurut sesepuh, ceritanya adalah :
Pada waktu dulu ada seorang ageng yang menanam padi, ketika waktunya panen terjadi suatu keajaiban yang luar biasa, manakala batang padi itu di potong tumbuh lagi sehingga tidak habis habis, lama kelamaan ki ageng ini merasa kelelahan dan penasaran akhirnya oleh ki ageng sawah itu di bakar sehingga padinya hitam (ireng – b. jawa ) . maka sejak kejadian itu dareah tersebut hingga sekarang bernama Ki Ireng. Wallahu alam.

27. ASAL USUL DESA CIJATI

Asal-Usul Desa Cijati
Untuk mengetahui asal-usul Desa Cijati, sangat erat kaitannya dengan kehadiran Embah Haji Siti Fatimah yang menjadi nenek moyang penduduk desa ini.
Kehadiran beliau di suatu tempat yang sekarang bernama Desa Cijati, menurut cerita orang-orang tua, kira-kira pada tahun 1690-an (Abad Ke-XVII). Beliau adalah berasal dari Demak keturunan kasepuhan dari Raden Fatah Sultan Demak. Untuk lebih jelasnya tercatat silsilah beliau sebagai berikut : (10) Siti Fatimah adalah putri (9) Nyi Langgeng Lanyi, putri (8) Pangeran Marta Singa, putra (8) Kiai Nanya Kerti, putra (4) Pangeran Waragil, putra (3) Sunan Prawoto, putra (2) Pangeran Trenggono, putra (Sultan Abdul Fatah (Raden Fatah) Sultan Demak.
Sebab musabab kehadiran Embah Haji Siti Fatimah di tempat ini ada dua variasi carita orang tua :
1. Beliau mengikuti suaminya yang bernama Embah Abdul Kodir putra Embah Abdul Muhyi Pamijahan Tasik Malaya. Mereka membuka pesantren dalam rangka menyebarkan ajaran agama Islam di suatu tempat di pinggir kali Cideres yang diberi nama Cijati.
2. Beliau berangkat dari lingkungan keraton di Demak, untuk mencari obat guna menyembuhkan penyakit kulit yang telah lama di deritanya. Penyakit itu sangat berat, belum ada seorang tabib pun yang dapat mengobatinya. Karena sudah sangat merasa kesal menderita penyakit itu, beliau bertafakur di kamarnya untuk memohon petunjuk kepada Tuhan tentang obat yang akan dapat menyembuhkan penyakitnya. Setelah beberapa lama tafakur itu dilaksanakan konon pada malam keempat puluh kebetulan malam jum’at, beliau mendapat ilapat berupa suara tanpa rupa yang menyuruh beliau agar keluar dari rumah. Di luar beliau melihat cahaya yang memancar ke langit di arah sebelah barat. Suara tanpa rupa itu menyuruh Fatimah agar mengikuti cahaya itu. Dan apabila beliau sampai di suatu tempat dan cahaya itu menghilang, di tempat itulah akan ditemukan obat penyembuh penyakitnya itu. Maka diikutinyalah petunjuk gaib itu. Ketika beliau sampai di suatu tempat di pinggir sebuah kali, hilanglah cahaya itu. Dan berhentilah Fatimah di tempat itu sesuai dengan petunjuk suara gaib dari bawah pohon-pohon jati yang besar-besar. Pada saat itu tempat tersebut masih merupakan hutan lebat. Beliau tertarik oleh air yang jernih pada itu ingin mandi untuk membersihkan diri badannya dan berwudhu. Betapa beliau tercengang ketika selesai mandi karena penyakitnya jadi sembuh dan kulitnya menjadi bersih. Air yang mujarab dan keluar dari pohon jati itu dinamainya Cai Jati (Cijati), yang kemudian menjadi nama kampung dan desa ini sampai sekarang. Adapun sumur yang berkhasiat itu dinamainya sumur Cikalamayan. Sampai sekarang sumur itu masih dianggap keramat.

II. Perkembangan tempat yang bernama Cijati menjadi Desa Cijati
Setelah Fatimah sembuh dari penyakitnya yang sangat menjengkelkan itu dan mengasingkan dirinya dari keramaian keraton, berkat khasiat cai jati dari sumur Cikalamayan itu, beliau berniat membenci kehidupan keraton yang penuh kemewahan tetapi mengekang dan membosankan. Itulah sebabnya beliau tidak senang mendengar bunyi gamelan yang biasa dibunyikan untuk menyemarakkan suasana keraton, dan melarang anak-cucunya membunyikannya. Siapa yang berani melanggarnya akan menanggung akibatnya.

Pada suatu hari singgahlah di pondok Fatimah seorang pemuda yang sedang berkelana berasal dari daerah Tasik Malaya yang bernama Abdul Kodir putra Embah Abdul Muhyi Pamijahan. Melihat keelokan rupa Fatimah, tertariklah hati Abdul Kodir kepadanya. Demikian pula Fatimah terhadap pemuda yang bernama Abdul Kodir.
Terungkap sebuah cerita menarik dalam kisah perkenalan Abdul Kodir dengan Fatimah. Untuk saling menjajagi ketinggian ilmu diantara mereka, Abdul Kodir meminta bara api kepada Fatimah untuk mengisap rokoknya. Disodorkanlah oleh Fatimah bara api itu kepada Abdul Kodir. Bara api itu di letakkan pada selendangnya, namun selendang tersebut tidak terbakar. Melihat kejadian itu tercenganglah Abdul kodir, dan diapun jadi tahu bahwa Fatimah itu adalah seorang gadis yang tinggi ilmunya. Kemudian Abdul Kodir pun segera mengambil bara api itu dari selendang gadis itu dengan tangannya sendiri. Tampak Abdul Kodir tidak merasa panas sedikitpun dan tangannya tidak terluka kena bara api itu. Dengan demikian tahulah Fatimah bahwa pemuda itu memiliki kesaktian dan ilmu yang tinggi. Setelah saling mengetahui kesaktian diantara mereka, terjalinlah rasa saling mencintai diantara mereka. Dan akhirnya atas kesepakatan mereka dan kesepakatan orang tua kedua belah pihak, mereka menikah untuk membangun rumah tangga yang tentram.

Setelah melangsungkan pernikahan, mereka mendirikan sebuah pesantren yang santri-santrinya berdatangan dari mana-mana. Dari pernikahan itu mereka dikaruniai dua orang puteri, yaitu :
1. Nyi Soiman, dipanggil demikian karena ditikah oleh seorang yang bersama Soiman putera Embah Salamudin dari Babakan Jawa.
2. Nyi Da’i
Dari Nyi Soiman itulah Embah Haji Siti Fatimah menurunkan anak cucunya yang menjadi inti penduduk Desa Cijati dan menjadi penerus perjuangannya dalam menyebarkan agama Islam melalui pendidikan Pondok Pesantren sampai sekarang.
Kesinambungan pesantren di Desa Cijati adalah berkat kesinambungan para pengasuhnya (para Kiayinya). Setelah Embah Abdul Kodir wafat di Tasikmalaya dan di makamkan di Desa Sukapancar kabupaten Tasikmalaya, pimpinan pondok pesatren di teruskan oleh menantunya yang bernama Kyai Soiman. Kemudian dilanjutkan oleh menantu Kiayi Soiman yang bernama Kyai Nurhisyam suami Nyi Ajid salah seorang puteri kyai Soiman. Beliau dari Situraja Sumedang datang ke Cijati untuk menuntut ilmu agama (mesantren) di Kyai Soiman yang kemudian dipungut menjadi menantunya. Setelah Embah Burhisyam wafat, pimpinan pesantren dilanjutkan oleh putranya yang bernama Kyai Irfa’i. Selanjutnya pengasuh pesantren disambung oleh Kyai Abdullah putera Kyai Irfa’i. Kyai Abdulloh wafat, pimpinan pesantren dilanjutkan oleh k.H. Muhammad Alwi suami Ibu Siti Hafsoh puteri Kyai Abdullah. Selanjutnya putera diasuh oleh putera K.H. Muhammad Alwi satu-satunya yang bernama K.H. Mahfudz. Kini pondok pesantren di Desa Cijati di kelola sekarang terkenal dengan sebagai desa santri (Pesantren).
Demikianlah perkembangan Cijati yang asalnya merupakan hutan lebat menjadi sebuah kampung dan kemudian menjadi sebuah desa yang kini berpenduduk sebanyak 5.000 jiwa. Cijati mulai ditetapkan menjadi desa pada zaman penjajahan Belanda, tepatnya pada tahun 1820 M. Kuwunya yang pertama bernama Embah Ngabeui Tirta Saestu.
III. Perkembangan Kehidupan Rakyat
Mengenai perkembangan kehidupan rakyat Desa Cijati dari masa ke masa tidak terdapat penonjolan-penonjolan yang menyolok tetapi tidak pula terlalu ketinggalan oleh desa-desa lain.

a. Perkembangan Bidang Ekonomi
Mula-mula rakyat Cijati hidup dari pertanian. Setelah penduduknya makin berkembang, sedangkan tanah lahan pertanian relatif tidak bertambah, mulailah mereka mencari mata pencaharian lain seperti bidang kerajinan, mencelup pakaian dengan nila yang dibuat dari pohon tarum pada zaman penjajahn Belanda dan Jepang. Waktu itu pakaian adat dibuat sendiri yang dibuat dari sekat kapas yang juga ditanam sendiri. Bekerja sebagai penjahit pakaian, kadang-kadang langsung menjualnya ke pasar. Para pengusaha penjahit jadi sampai sekarang terus berkembang. Sayang para penjahit pakaian sekarang hampir punah karena harga pakaian jadi di pasaran lebih murah daripada buatan sendiri. Sekarang sudah banyak pula yang menyelenggarakan industri kecil di rumah-rumah seperti membuat kecap, tahu, rajinan dan lain-lain.

b. Perkembangan Bidang Sosial
Dalam bidang sosial sejak dulu sudah terbina dengan baik, terutama dalam hal kegotong royongan, baik dalam peristiwa kematian, hajatan maupun membangun rumah. Tolong menolong antar sesama sangat rampak dengan tumbuhnya kelompok arisan, perkumpulan-kumpulan di tiapblok yang menyediakan alat keperluan untuk hajatan seperti piring, sendok, gelas, alat memasak, kursi, belandongan dan lain-lain.

c. Perkembangan Bidang Kebudayaan
1. Bidang Pendidikan
Mengenai kemajuan bidang pendidikan agama sudah tidak diragukan lagi, karena berdirinya desa Cijati berpangkal dari berdirinya pondok pesantren yang merupakan lembaga pendidikan Islam dan terus berkesinambungan sampai sekarang. Pelajaran Agama disampaikan hampir di tiap langgar (tajug). Kini semakin berkembang lagi dengan telah berdirinya Madrasah Diniyah Awaliyah sejak sejak tahun 1964, disusul dengan berdirinya Yayasan Darul Falah pada tahun 1983 dan sekarang telah didirikan pula Madrasah Aliyah pada tahun 1987.
Dalam bidang pendidikan umum telah berdiri sekolah dasar 3 tahun sejak tahun 1913. sekarang telah berdiri tiga buah sekolah dasar Negeri 3 tahun yang dapat menampung semua anak usia sekolah. Pendidikan umum tingkat menegah pertama pun sudah ada, yaitu SLTPN 4 Majalengka dekat kampung Cijati. Begitu juga pendidikan umum tingkat atas telah berdiri yaitu SMU PGRI 1 Majalengka di Cijati.
2. Bidang Kesenian
Dalam bidang kesenian sejak dulu di desa Cijati belum ada yang menonjol, yang terkenal ke luar daerah.
3. Bidang Olah Raga
Olahraga yang paling disenangi masyarakat adalah sepak bola. Olahraga lain yang disenangi masyarakat adalah Volly ball, hampir di setiap blok ada lapangan Volly ball beserta klubnya.

IV. Pantangan atau Tabu
Ada dua hal yang dianggap tabu (pantangan) yang masih di pegang teguh oleh sebagian besar penduduk Desa Cijati.

1. Kesenian menggunakan alat-alat gamelan
Kesenian yang menggunakan alat-alat gamelan seperti wayang baik wayang kulit maupun wayang golek yang lengkap dengan nagayannya. Fatimah apabila mendengar suara gamelan hatinya merasa risih pedih serasa tersayat sembilu. Karena itulah beliau melarang anak cucunya menyelenggarakan hiburan yang menggunakan gamelan secara lengkap. Barang siapa yang berani melanggarnya dia harus menganggung akibatnya.

2. Memiliki atau memelihara kuda yang berbulu hitam
Asal-usul penduduk Cijati dilarang memiliki atau memilihara kuda berwarna hitam adalah sebagai berikut :
konon kabarnya Embah Haji Siti Fatimah itu ketika mudanya memiliki rambut yang panjang, bila terurai akan sampai ke tanah. Bila beliau menyisir rambutnya setelah keramas, harus menggunakan gelah sebagai penyangganya agar tidak terurai ke tanah.
Pada suatu hari ketika Embah Haji Siti Fatimah sedang menyisir rambutnya, tiba-tiba kuda peliharaannya yang berwarna hitam keluar dari kandangnya dan berlari-lari kesana-kemari, hingga menabrak galah penahan rambutnya tersebut, sehingga rambutnya menjadi kusut sukar dibereskan lagi. Karena marahnya keluarlah ucapan sumpah dari mulutnya yang berbunyi :
“Sumpah tujuh turunan kepada anak cucu janganlah memelihara kuda yang berwarna hitam”.
Dua macam tebu diatas masih di pegang teguh oleh sebagian besar orang Cijati terutama keturunan Embah Haji. Yang berani melanggarnya biasanya ada saja diakibatkan jelek. Apakah hal itu menunjukkan bahwa tebu itu memang masih benar-benar angker ataukah hanya karena sugenti psykologis belaka? Wallahu a’lam, hanya Allah Yang Maha Mengetahui.

28. ASAL MUSALNA DESA PADAREK

Desa padarek dalam cerita lamatatkala syam hidayah tullah menyebabkan agam islam didaerah updeling kersina cirebon kira-kira abad ke-18, beliau sangat banyak pengikutnya yang setia dalam rangka menyebar luaskan agama islam, menaklukan agama animesme, memberantas kemusrikan dan kemaksiatan, akibat dari itu dipelosok pedusunan, pedesaan banyak terjadi bentrokan fisik satu sama lain saling mempartahankan keyakinan dan paham masing-masing.

Di saat itu keadaan desa padarek sebagian besar tanahnya masih padang alang-alang, semak belukar. Kita ungkap para pengikut syarip hidayat tuloh sebagai pejuang penyebar agama islam, seperti eyang djugat wahana jaya karta, ibu ena, nyi rastapa,dan lain-lain. Sedang berjuang melawan musuh . Eyang djagat wahana meninggal, tertimpa batu handring yang di lepas musuh dari blok batu numpang. Batu handring itu mental pula kira-kira 300m, ke arah timur yang ada di pinggir kali Cisampara setelah bertahun-tahun batu itu di selimuti dan di tembus akar-akaran batang menjalar / istilah bahasa sunda areuy-areuyan maka di sebutlah julukan BATU KARUT. Bekas jatuh menimpa Djagat wahana jadi sebuah kolam sipatahunan sedangibu Ena, Nyi Rastapa yang memiliki selendang lekcan mempunyai kekuatan gaib meninggal di sebelah timur padarek.

Beberapa abad yang lalu sebuah peristiwa tersebut tak jauh dari batu karut dan kolam sipatahunan kurang lebih 400m ke arah utara, terdapat sebuah kampung tarikolot. Kian lama penghuninya kian bertambah, maka dusun itu dijadikan desa. Yang di pimpin oleh Demang Aslia setelah ia memerintah 11 tahun lamanya ia di ganti oleh Demang Arsaim. Keadaan ekonomi rakyat rusak atap bangunan pun masih alang-alang, sirap bamboo, sedang pakaian masih compang-camping maka sering terjadi pencurian terutama hewan besar, kerbau, sapi. Oleh karenanya kantor desa harus pindah ke blok babakan, karena sumber ekonomi masih sempit maka demang mengajak seluruh warga desa untuk membuka memperluas lahan pertanian, warga manyambut dengan gembira seraya mengucapkan PADAREK dari itulah nama desa PADAREK WALKHUALAM.

Sedikit demi sedikit lahan pertanian mewujud walaupun belum ada irigasi, seperti keadaan sekarang ini, namun telah bisa di manfaatkan dan hasilnya bisa di nikmati. Demang Arsaim memangku jabatan selama 9 tahun, ia sudah tua bangka, dan akhir tahun 1903 ia meninggal dunia. Kedemangan kini di jabat oleh Santana Wangsa, setelah ia memerintah beberapa tahun di desa itu kantor desa harus pindah lagi ke blok batu karut, yaitu yang lokasinya kini tempati. Wilayahnya meliputi : 1) Blok Desa 2) Tari Kolot 3) Cibulakan 4) Mananti 5) Pasirhanja 6) Suka Wangi 7) Cigobang meliputi Dayeuh panjang, Cipasung, Cicariang 8) Cisalak, dengan batas-batasnya. Sbb :
Utara : Desa Bantarujeg
Timur : Desa Kalapa Dua
Selatan : Desa Cibulan & Desa Lemah Putih
Barat : Desa Sada Wangi & Desa Kepuh
Desa padarek setelah negara merdeka :
Setelah negara merdeka timbulah kekacauan yang ingin mendirikan negara islam Indonesisa yaitu gerombolan D.I / TII yang dipimpin oleh S.M. Karto Suwiryo, Desa Padarek pun jadi sasaran penggarongan, pembakaran rumah, pembunuhan, penculikan, pada tanggal 11 Agustus 1959 padarek pun sebagai ibu kota di bakar hangus pemerintah desa tidak stabil, pendidikan kocar-kacir, di waktu malam tidur pundi rungkun-rungkun bamboo dsb.

Tahun 1981 desa padarek di mekarkan jadi 3 desa yaitu : 1) Desa Padarek 2) Desa Sukajadi 3) Desa Marga Jaya saat itu kades sedang di pangku oleh Radi LK.Batas-batas Desa kini berubah sebagai berikut :
Utara : Desa Sukajadi
Timur : Desa Kalapa Dua & Desa Sinar Galih
Selatan : Desa Marga Jaya
Barat : Desa Sukajadi
Meliputi 1) Blok desa 2) Tarikolot 3) Cigobang termasuk Dayeuh Panjang, Cipining Cicariang.
Susunan kepala desa lama dan setelah di mekarkan : 1) Demang Aslia 2) Demang Arsoim 3) Santana Wangsa & 4) Wangsa Atmaja 5) By. Bima 6) Lampu 7) Endo Hamola 8) Karta Winata pjs 9) Danuri 10)Al Hatob pjs 11) M. Hatob 12) M. Arkasim 13) Ojo Sujana 14) Radi L.K. 15) Dadang Haerudin pjs 16) Dadang Haerudin 17) Dadang Haerudin 18) Hapip R. K. pjs 19) Dadang Haerudin

Keterangan :
1) Luas wilayah : 436.005 Ha. Ketinggian tanah 489m dari permukaan laut, terdiri dari perbukitan, mata pencaharian penduduk, petani buruh tani, dagang, wiraswasta, dll.
2) Bekas batu bandring menimpa jadi kolam sipatahunan
3) Batu bandring kini di sebut batu karut masih wujud cerita ini di himpun dari sesepuh desa padarek lama, oleh Ginon Akroman sejak tahun 1986M.

29. ASAL MUASALNA DESA PANONGAN

Pada tahun 1769 di dataran rendah sebelah Timur Sungai Cimanuk ada sebuah penduduk/dusun yang namanya dusun “Siwalan” Sebab disebut dusun Siwalan karena ditempat tersebut banyak tumbuh pohon siwalan. Di dusun itu dihuni oleh satu keluarga namanya aki dan Onclong kopik beserta pengikutnya yang namanya aki dan nini terbin.

Keluarga tersebut sehari-harinya sebagai petani. Waktu itu untuk sumber air minum, mandidan menyiram. Mereka membuat sumur dan menggali, berkat kesaktiannya keluarlah air yang banyak dan sumur tersebut diberi nama su ur sugara yang sampai kini dianggap keramat.

Lama kelamaan penduduk di dusun Siwalan bertambah banyak, pada tahun 1825 datanglah 2 utusan dari kesultanan Cirebon untuk memimpin pendukuhan tersebut. Mereka dalah Kibuyut Dokom dan kibuyut Ruda, sebab wilayah itu masih wilayah Cirebon, untuk tugas ke-2 orang tersebut kibuyut Ruda menjadi kuwu dan kibuyut Dokomnya lebe.
Namun kenyataannya kenyataanya Ki Ruda menjadi kuwu hanya berjalan kurang lebih 1 tahun, sebab perasaan dirinya belum mampu, begitu pula ki Dokom menjadi lebe kurang mampu, sebab ki Ruda keahliannya di kalebean atau kesra sedangkan ki Dokom di pemerintahan di oper alih ke ki Dokom menjadi kuwu dan ki Ruda menjadi lebe.
Berkat kepemimpinan kedua orang tersebut ngaheuyeuk dayeuh ngolah dusun dengan arif dan bijaksana keadaan subur makmur gemah ripah repeh rapih.
Sepuluh tahun kemudian kepemimpinan ki Dokom telah berlalu dan kibuyut Dokom mengundurkan diri lalu diganti oleh putra daerah asli dusun Siwalan, yaitu kibuyut Bangi. Begitu pula berkat kepemimpinan ki Bangi dalam keadaan subur gemah rapih repeh rapih.

Namun kira-kira pada tahun 1839-an ada sebuah tragedy perang yang katanya pada waktu itu disebut perang “babad bantar jati”pada wakti itu selaku senopan perang / pemanggil juritnya, yaitu ki Rangin/ ki Bagus Rangin perang dengan tentara Belanda yang dating dari arah Sumedang, yang pada waktu itu sebagai bupati kepala daerah Sumedang atau Pangeran yang terkenal arif dan bijaksana, walaupun dirinya orang Belanda tetapi sangat menyayangi rakyat kecil.

Namun pada perang tersebut para penduduk dusun Siwalan tidak ikut campur hanya mengintai saja. Orang Sunda bilang “Noong”. Melihat kejadian tersebut seusai perang para sesepuh desa Siwalan mengadakan rempungan / musyawarah untuk mengganti nama dusun Siwalan menjadi desa Panongan atau “Panoongan”, sebab pada perang tersebut diatas hanya mengintip atau noong dan hingga sekarang namanya desa Panongan.
Kira-kira pada tahun 1857 katanya kedatangan pula ke desa Panongan tersebut seorang pejuang yang bernama mbah buyut Guru Kusuma asal dari Jawa Timur, di salah seorang pejuang agama Islam dan pejuang Negara yang ikut perang dengan Pangeran Diponegoro. Dia datang ke desa Panongzn dengan cara menyamar dengan memakai karung kadut, sebab dia sedang dikejar-kejar oleh musuh. Lalu datangnya ke desa Panongan dirinya merasa aman dan dia menginap di keluarga kuwu Bangi.

Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, tahun demi tahun mbah buyut Guru Kusuma di desa Panongan itu medirikan perguruan di bidang baca tulis Al-Qur’an atau dalam hal bela diri. Untuk menyebarluaskan ajaran agama Islam bersama sesepu dan penduduk desa Panongan.

Lalu oleh para penduduk mbah buyut Guru Kusuma diberi julukan buyut kadut, perguruan itu tempatnya di pinggir desa atau dayeuh. Dengan adanya perguruan itu yang dipimpin beliau Desa Panongan cukup meningkat di dalam ilmu keagamaan / hal bela diri. Jadi dengan adanya beliau membawa berkah untuk masyarakat Desa panongan da sekitarnya, buyut Jaka pun sampai sampai akhir hayatnya didesa panongan dan dimakamkan di blok pasir begitu pula kuwu Bangi.istirinya dimakamkan dberdampingan dengan kibuyut Jaka Kusuma sampai sekarang masih ada makamnyadan dianggap keramat oleh para penduduk setenpat dan sekitarnya juga oleh para ulamahingga kab. Majalengka dan sekitarnya. Dan begitu pula ki Ruda dan ki Buyut Dokom sampai akhir hayatnya di desa Panongan dan dimakamkan di sebelah timur solokan Cibeet, ki buyut Dokom di sebelah Barat makan ki Buyut Ruda.

Demikian sekilas pandang asal-usul Desa Panongan Kec. Jatitujuh Kab. Majalengka. Apabila dalam tulisan ini ada yang tidak pas dengan kenyataan mohon maaf sebesar-besarnya, tulisan ini didapat dari arsip desa yang ada dan disusun kembali oleh raksa bumi. Semoga ini menjadi gambaran bagi anak-cucu kita di kemudian hari.

30. ASAL MUASALNA DESA PANYINGKIRAN

Dahulu kala kira-kira pada pertengahan abad 17. Ketika di Cirebon sudah menyebar agama Islam, begitu juga di daerah Jawa Barat lainnya. Ketika itu ada seseorang dari kerajaan Mataram yang bernama EMBAH GAMBIR yang diutus oleh RATU ANOM (seorang raja), untuk mencari seorang calon permaisuri yang cantik. Karena RATU ANOM belum mempunyai permaisuri.

Selama perjalannanya EMBAH GAMBIR didampingi oleh beberapa menteri dan para pengawal. Mereka berjalan kearah Barat dan sedikit ke Selatan. Namun setelah berhari-hari berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan lamanya, mereka mencari seorang wanita cantik, tapi tak kunjung mereka temukan. Sedangkan perjanjiannya mereka harus menemukan wanita cantik tersebut selama 1 minggu. Akhirnya mereka menyerah dan berhenti di sebuah tempat yang pada saat itu masih berupa hutan belantara.
Karena pembekalan sudah habis dan mereka tidak mungkin bepergian lagi. Akhirnyamenetaplah mereka di sana dengan harapan mereka dapat tinggal di sana seraya seraya menunggu dan mencari wanita cantik di tempat-tempat sekelilingnya.
Untuk makan, minum, mandi dan sebagainya digalilah sebuah sumur yang di atasnya ditutup oleh belahan kayu (Padung). Oleh karena itu, daerah tersebut diberi nama CIPADUNG dan sampai saat ini sumur itu masih ada.

Dibagian Selatan dibuatlah sebuah tempat untuk meliht (Tenjo, Sunda) dan meninjau tempat-tempat sekelilingnya.Hingga daerah tersebut diberi nama PANENJOAN. Di waktu sore hingga maghrib mereka berpindah ke tempat yang lebih tinggiuntuk melihat lembayung (Layung, Sunda). Hingga sekarang daerah tersebut dinamakan PANGLAYUNGAN.
Akhirnya dijadikanlah semua daerah tersebut tempat untuk mereka menetap selama-lamanya, untuk menghindar (Nyingkir) dari RATU ANOM dan kerajaan Mataramnya. Hal ini terjadi karena EMBAH GAMBIR tidak berhasil mencari calon permaisuri untuk RATU ANOM, karena kegagalannya itu mereka akan mendapat hukuman. Hingga daerah itu dijadikan sebuah desa yang bernama “PANYINGKIRIAN” yang berasal dari kata Nyingkir (menghindar).

Daerah itu dijadikan oleh EMBAH GAMBIR menjadi sebuah kerajaan (keration) atau kesatuan dan EMBAH GAMBIR sendiri yang menjad rajanya. Setelah beberapa lama EMBAH GAMBIR menjalankan pemerintahan.
Akhirnya wafatlah ia disana tempat tersebut kemudian dinamakan KEDATUAN berasal dari KERATUAN.

EMBAH GAMBIR semasa hidupnya putus asa untuk menemukan wanita cantik dan putus asa untuk kembali ke Mataram maka makam EMBAH GAMBIR disebut juga EMBAH PONDOK.
Demikian untuk tutur cerita tentang Riwayat PANYIGKIRAN. Kebenarannya Wallahu A’lam

31. ASAL USUL DESA PARAKAN

Parakan adalah sesuatu desa yang di mana dahulunya bernama Gunung Sari Trajutisna itu ada sebuah pemakaman yang disebut Buyut Trajutisna dan pemakaman itu sebenarnya bukanlah wujudnya manusia, yang dikubur berupa pekakas seperti pedang, keris, dan alat perkakas lainnya.

Pada zaman itu perkakas tersebut dianggapnya sebagai barang pekakas besar oleh masyarakat Parakan. Barang pusaka itu dianggapnya keramat, menurut orang tua, dahulu perkakas itu tidak boleh digali atau dirusak oleh siapa saja. Tetapi kepercayaan itu sekarang sudah hampir hilang karena kepercayaan menyembah dan menganggap keramat kepada benda atau kuburan itu dinamakan dinamisme. Buyut Trajutisna itu letaknya di Dukuh Kulon.

Pengambilan nama Dukuh Kulon itu mungkin karena letak perkampungan itu ada di sebelah barat atau kampung Dukuh Kulon letaknya yang palingS berat dari keseluruhan Desa Parakan.

Di Rajagaluh ada kerajaan yang diperintahkan oleh bangsa Walanda yang bernama Ratu Galuh dan agama yang dianutnya oleh mereka yaitu agama kafir. Mereka ingin masuk kepada agama Islam. Ratu Galuh mempunyai seorang putra laki-laki ia sedang sekali marak (sunda) yaitu mengambil ikan di sungai Cikamangi di Desa Trajutisna yaitu di antaranya Leuwi Sumar dan Leuwi Cadas.

Marak itu menimbulkan berbagai kerusakan-kerusakan seperti sawah yang dekat sungai itu menjadi rusak. Karena tanahnya diambil yang ada di pinggir sungai pun menjadi rusak. Bendung sungai Cikamangi apabila akan marak.

Nyi Rambut Kasih dalam hatinya merasa kesal melihat perbuatan mereka itu, kemudian ia mengambil tusuk kondenya itu, lalu diciptakanlah menjadi ikan yang besar yaitu ikan senggal yang warnanya putih. Setelah sungai itu airnya surut, maka ramai-ramailah mencari ikan, sedang ramainya mencari ikan kemudian senggal itu menghendaki agar putra galuh itu mati.

32. SEJARAH TENJOLAYAR

Berdasarkan cerita rakyat (legenda) Desa Tenjolayar mempunyai rangkaian sejarah dengan beberapa desa lain di sekitarnya, seperti Desa Manjeti dan Cigasong. Daerah ini diperkirakan zaman dahulu merupakan bagian dari kawasan yang dekat dengan Laut Jawa.

Menurut keterangan Aki Emen (sesepuh), zaman dahulu ada dua orang Kiyai bersaudara asal Cirebon bernama Embah Karsijah dan Embah Kawung Poek. Kedua orang ini tidak rukun dalam kehidupannya, apalagi Kawung Poek mempunyai sifat tamak akan kekuasaan. Berdasarkan kejadian tersebut, Embah Karsijah minta tolong kepada Embah Karim saudara mereka. Sehingga persengketaan dapat diselesaikan oleh Kiyai Karim dengan keputusan, bahwa daerah kekuasaan dibagi menjadi dua, yaitu:
1.Daerah sebelah timur (sekarang Desa Tenjolayar) dikuasai oleh Embah Karsijah.
2.Sebagian besar wilayah Cigasong dikuasai oleh Embah Kawung Poek.
Berdirinya Desa Tenjolayar sekira tahun 1905 atas ajuan tokoh masyarakat kepada Kanjeng Dalem (bupati Majalengka saat itu). Agar tempat ini menjadi sebuah desa, Kanjeng Dalem meminta agar terlebih dahulu didirikan Sekolah ngadapang (Sunda, tengkurap di atas lantai/tanah). Di lokasi sekolah ngadapang tersebut sekarang berdiri Sekolah Dasar Negeri Tenjolayar 1.

Asal kata Tenjolayar sendiri terdiri dari dua suku kata yakni Tenjo yang berarti melihat dan Layar yang berarti layar perahu. Menurut keterangan masyarakat kata Tenjolayar berarti melihat layar, arti ini dapat dibuktikan dengan adanya suatu tempat di Tenjolayar yang bernama Pesanggrahan. Konon tempat tersebut adalah tempat istirahat Ratu Majalengka. Dari tempat ini kita dapat melihat ke arah pantai Cirebon.
Putra Galuh yang sedang akan mengambil ikan senggal tadi, tetapi dengan jilat ikan senggal menyambar tenggorokan Putra Galuh. Setelah menyambar tenggorokan putra galuh ikan senggal itu menghilang. Putra Galuh itu kemudian di bawa langsung ke Rajagaluh. Setelah sampai di Keraton Rajagaluh beberapa waktu kemudian Putra Galuh meninggal dunia.

Sebelum azalnya tiba mengucapkan yang berbunyi “Apabila orang Trajutisna kawin dengan orang Rajagaluh maka di antara mereka tidak umurnya atau tidak jodohnya.” Kemudian setelah kejadian itu Desa Trajutisna dinamakan desanya menjadi Desa Parakan.

LEGENDA KELURAHAN CIKASARUNG
KECAMATAN MAJALENGKA KABUPATEN MAJALENGKA

Di sebelah utara kota Majalengka, sekitar kurang lebih 2,5 Km dari pusat kota Kabupaten setelah melewati Pasir Melati dan Sungai Cideres ada sebuah kelurahan bernama Cikasarung. Kelurahan Cikasarung termasuk dalam wilayah Kecamatan Majalengka dan merupakan perbatasan sebelah utara dengan Kecamatan Dawuan. Jumlah penduduk Kelurahan Cikasarung saat ini 2885 jiwa dengan mayoritas penduduk bermata pencaharian sebagai petani. Sebagai sebuah Desa/Kelurahan, Cikasarung bersifat homogen, hal ini menjadikan interaksi antar warganya begitu akrab-bersahabat penuh rasa kekeluargaan.

Lajimnya sebuah kawasan pemukiman di daerah Pasundan penggunaan kata ‘ci’ yang diambil dari kata cai yang berarti air mengandung makna bahwa tempat tersebut subur dengan terdapatnya sumber-sumber air yang melimpah yang ditenggarai dengan adanya satu atau ada beberapa sungai di tempat tersebut.

Di Kelurahan Cikasarung ada sungai yang mana dari nama sungai tersebut lah nama Cikasarung diambil. Sungai Cikasarung berhuli di sebelah Tenggara Kelurahan mengalir sampai Desa karangsambung Kecamatan Kadipaten dan bermuara di Sungai Cilutung.

Di antara nama-nama desa / kelurahan yang berada di Kabupaten Majalengka bahkan di Jawa Barat sekalipun, mungkin nama Cikasarunglah yang terasa asing dan mungkin juga unik di telinga orang-orang yang mendengarnya. Hal tersebut bisa dilihat dari ekspresi orang-orang yang selalu tersenyum ketika nama Cikasarung disebut. Rata-rata mereka beranggapan nama itu diambil dari kata ‘sarung’ dengan mengartikannya ‘cai dina sarung’ (air di dalam kain sarung). Atau ada juga yang menghubungkannya dengan cerita rakyat Lutung Kasarung. Namun menurut sesepuh nama Desa Cikasarung itu diambil dari nama sungai yang mengalir melingkari blok desa. Nama Cikasarung sendiri diambil dari dua kata yaitu: cai dan kasarung.

Menurut para sesepuh desa, asal muasal keberadaan Kelurahan Cikasarung tidak bisa dilepaskan dengan Sejarah Kerajaan Islam Mataram di Jawa Tengah. Pada masa Mataram diperintah oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo, Mataram berniat merebut Jayakarta yang pada waktu itu bernama Batavia dari tangan penjajah Belanda. Untuk menyukseskan penyerangan tersebut diperlukan perencanaan yang matang dan jitu. Melihat jarak Mataram- Batavia yang begitu jauh maka sang Sultan memperhitungkan bahwa masalah logistik atau bahan pangan akan menjadi kendala terbesar yang akan dihadapi oleh pasukan Mataram. Untuk mengatsi hal tersebut Sultan memutuskan untuk mengirim secara rahasia para prajurit yang mempunyai keahlian bercocok tanam guna membuka lahan-lahan pertanian di sepanjang jalur yang akan di lewati yaitu di sekitar jalur pantai Utara Jawa Barat sekarang ini. Tugas pokok prajurit-prajurit tersebut adalah membuat lumbung-lumbung padi untuk mensuplai kebutuhan logistik pasukan.

Diceritakan lima orang prajurit mataram sampai ke sebuah tempat di kawasan Kelurahan Cikasarung saat ini. Di tempat tersebut hanya terdapat beberapa keluarga petani yang sederhana dengan seseorang yang dianggap sebagai sesepuh mereka, tepatnya tempat itu masih berupa babakan bukan kampung apalagi desa. Seperti layaknya orang pedesaan warga Babakan itu menyambut kedatangan kelima tamu tak dikenal itu dengan ramah, mereka berkumpul di rumah sesepuh bercengkrama penuh keakraban.
“ Jadi apa maksud ki sanak berlima datang ke sini ?” Tanya sesepuh setelah orang-orang pulang ke rumahnya masing-masing, saat suasana mulai tenang.
“ Sebab saya lihat dari sikap dan penampilan ki sanak bukan para pengembara sembarangan yang kesasar tanpa arah dan tujuan,” lanjutnya lagi.
Kelima prajurit itu saling pandang satu sama lainnya, kemudian keempat orang dari mereka menggunakan kepala kepada seseorang yang menjadi juru bicara, rupanya orang itu adalah pemimpin diantara mereka berlima.
“ melihat keramahan dan keikhlasan hati menyambut kami berempat, baiklah saya akan menerangkan siapa kami sebenarnya. Kami yakin Aki cukup bijak untuk menyimpan rahasia ini.” Lantas pimpinan itu mencerikan semuanya.
“ Begitulah Ki ceritanya.” Ucap pimpinan prajurit itu.
“ O, begitu. Jadi raden-raden ini prajurit Mataram.”
“ Jangan panggil kami raden, toh kami hanya prajurit biasa dan lagipula kami sampai ke Babakan ini bisa juga disebut nyasar karena tujuan kami sebenarnya adalah jalur Pantai Utara Jawa.
“ Baiklah kalau begitu saya pribadi sangat mendukung perjuangan Sultan untuk merebut Batavia. Sebagai bentuk dukungan, saya akan mengganjar kalian dengan lahan sebelah Timur babakan ini untuk digarap menjadi lading atau sawah.”
“ Ooh … terima kasih sekali, Ki.” Jawab mereka berlima serempak.
“ Orang-orang Babakan ini penuh rasa welas asih ini memang Babakan Asih !” Seru pimpinan prajurit kegirangan.

Sejak saat itu Babakan tersebut disebut blok Babakan Asih karena orang-orang di Babakan itu mempunyai sifat welas asih yang tinggi. Sedangkan kelima prajurit Mataram disebut sebagai Balaganjar diambil dari kata Balad dan Ganjar yang artinya : Orang-orang atau kelompok yang diganjar – diberi anugrah, dan tempat mukim merekapun disebut blok Balaganjar.

Setelah itu kelima prajurit Mataram yang memang ahli dalam bertani menggarap lahan yang diberikan oleh sesepuh Babakan Asih. Kendala pertama yang mereka temui susahnya mencari sumber air untuk mengairi lahan mereka, karena letak lahan pertanian yang akan mereka garap lebih tinggi dari Sungai Cideres deet yang berada di sebelah utaranya. Akhirnya mereka memutuskan untuk mencari sumber air di bukit sebelah selatan. Hamper seharian penuh mereka mencarinya, menjelang waktu Ashar mereka menemukan rembesan-rembesan air yang keluar dari rumpun-rumpun honje yang terletak di tebing pasir ynag agak landai. Setelah di korek-korek rembesan-rembesan air itu semakin membesar.
“ Air! Air!” seru mereka kegirangan.
“ Airnya deras sekali, dan jernih.”
“ Cepat bikin pancuran! Biar nanti besok kita buatkan parit-parit untuk aliran airnya.” Perintah sang pemimpin.

Usai sudah pencarian sumber air dan pembuatan saluran irigasi. Dengan tangan dingin kelima petani prajurit itu lahan pertanian Balaganjar yang tadinya hanya lading, semak-semak dan ilalang telah berubah menjadi pesawahan yang subur, dan orang-orang Babakan Asih juga mulai bercocok tanam di lahan tersebut.

Sumber mata air sampai sekarang masih mengalir deras bahkan di musim kemarau sekalipun. Penduduk Dusun Dukuh Pasir – bagian dari Blok Balaganjar sekarang ini – banyak memanfaatkan mata air tersebut untuk mandi mencuci selain untuk mengairi sawah mereka. Penduduk Kelurahan Cikasarung menyebut mata air tersebut dengan sebutan Cihanja mungkin diambil dari kata honje.

Keberhasilan lima prajurit Mataram semakin membuat penduduk Babakan Asih menaruh hormat dan kagum pada mereka. Mereka sering diajak berembuk dalam segala hal yang menyangkut kepentingan bersama. Rasa hormat dan kagum penduduk Babakan Asih diungkapkan dengan pemberian nama-nama kepada kelima prajurit Mataram tersebut seperti : Ki Ganjar sebutan untuk pimpinan kelima prajurit itu, dan untuk prajurit yang mempunyai sifat cakap dan pintar mereka menyebut Ki Jaksa, dan untuk prajurit yang mempunyai keahlian bercocok tanam palawija mereka menyebutnya Ki Bogor, untuk prajurit yang ahli dalam pengobatan mereka menyebutnya Aki Dukun, sedangkan prajurit yang ahli bangunan Ki Putul, nama tersebut lalu diabadikan oleh warga Kelurahan Cikasarung menjadi sebuah tempat / buyut.

Dengan kedatangan kelima prajurit Mataram tersebut taraf kehidupan Penduduk Babakan Asih ada peningkatan dari sebelumnya, hal itu bisa terlihat dari hasil panen yang melimpah dikarenakan semakin luasnya lahan pertanian yang digarap. Mereka selalu bisa menyimpan hasil panen tiap musimnya, sisa dari pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

Untuk memenuhi kebutuhan mereka menjual hasil pertaniannya ke pasar yang letaknya kurang lebih 15 Km di wilayah Kadipaten sekarang ini dengan cara dipikul melewati hutan belantara. Mereka pergi ke pasar setiap seminggu sekali di hari yang biasa mereka sebut sebagai poe pasar. Dan dari pasar ini pula mereka mendapatkan informasi keadaan di luar Babakan tempat tinggal mereka.
Suatu hari bada isya, sesepuh mengundang kelima prajurit Mataram kerumahnya.
“ Ada apa Ki? Sepertinya penting sekali Aki mengundang kami malam-malam begini.” Tanya Ki Ganjar.
“ Ki Ganjar saya mendengar berita dari tukang kain di pasar bahwa Belanda telah mengetahui rencana Sultan untuk menyerang Batavia dan merekapun telah mengetahui Strategi Sultan yang mengirim prajuritnya untuk membuka lahan pertanian, sekarang ini mereka sedang mencari para prajurit yang menyamar jadi petani. Mereka telah banyak menangkapi dan membakar lumbung-lumbung padi di sekitar Pesisir Pantai Utara Jawa. Saya khawatir keberadaan kalian berlima diketahui oleh mereka, karena itu sebaiknya kalian bersembunyi atau pergi dari Babakan ini.” Jawab sesepuh menjelaskan maksud mengapa dia mengundang kelima prajurit itu secara diam-diam.
“ Kenapa kami harus pergi Ki, bukankah jika tentara Belanda datang kami bisa mengaku sebagai orang Babakan ini?” Tanya Ki Ganjar lagi.
“ Penduduk Babakan Asih sedikit, jadi kalau ada orang asing di sini mudah dikenali, lagi pula logat bicara kalian beda sekali dengan kami, sepintas saja orang bisa bahwa kalian dari Jawa.”
“ Tapi tidak mungkin kan kalau kami saat ini harus kembali ke Mataram tugas kami belum selesai.” Ucap Ki Ganjar.
“ Saya tidak mengusulkan kalian untuk kembali ke Mataram tapi untuk bersembunyi sampai keadaan benar-benar aman.”
“ Bagaimana ini saudara-saudara?” Tanya Ki Ganjar kepada keempat temannya.
“ sebagai prajurit Mataram rasanya tidak pantas kita lari atau bersembunyi dari musuh, bukankah kita juga berbekal senjata?” Jawab Ki Putul.
‘ saya sependapat dengan Ki Putul, kita lawan mereka! Biar harus meregang nyawa kita mati dalam keadaan terhormat. Kita ini sejatinya adalah seorang prajurit ingat itu! Kita bukan hanya petani kita prajurit!” Ki Bogor menimpali dengan berapi-api.
“ Saya rasa itu kurang tepat.” Sanggah Ki Jaksa.
“ Mengapa?!” Tanya Ki Putul dan Ki Bogor hampir berbarengan.
“ Berikan kami alasannya!” Pinta Ki Bogor dengan nada bicara yang sedikit emosional.
“ Karena jika kita melawan, orang-orang Babakan Asih akan kena getahnya.” Ujar Ki Jaksa dengan nada yang datar dan ekspresi.
“ Ya benar, kita tidak mungkin melibatkan apalagi mengorbankan mereka semua. Mereka petani asli tidak seperti kita.” Ki Dukun menambahkan.
“ Lagi pula kita kalah dalam hal kelengkapan senjata dan jumlah prajurit juga kemampuan bertempur, pasti kita kalah total. Keberanian harus tetap ada, tetapi harus memakai akal jangan sampai kita mati konyol.”
“ Apa?! Ki Jaksa menganggap bahwa mati sebagai prajurit di medan perang sebagai sebuah tindakan konyol?” jelas sekali terlihat kekesalan dalam raut muka Ki Bogor.
“ Bukan begitu maksud saya Ki…”
“ Lalu apa?” potongnya cepat.
“ Sudah, sudah yang harus kita utamakan sekarang adalah keselamatan penduduk Babakan Asih, sekaligus tugas kita juga bisa dijalankan. Lagi pula Sultan menugaskan kita bukan untuk berperang tapi menyiapkan lumbung-lumbung padi untuk logistik pasukan di saat nanti menyerang ke Batavia.” Sela Ki Ganjar menengahi .
“ Tapi Ki ganjar, Belanda sudah mengetahui hal tersebut.” Ujar sesepuh mengingatkan.
“ kita harus mencari jalan keluarnya.” Ucap Ki Ganjar. Semua orang terdiam, termenung berpikir keras mencari jalan keluar yang terbaik. Suasanapun hening dan tegang desah daun-daun bambu yang diterpa angina malam semakin membuat malam mencekam.
“ Begini saja.” Ki Ganjar memecahkan kebekuan.
“ Sultan menugaskan kita dan kita tidak boleh menyimpang dari tugas utama sebelum ada perintah lain.”
“ Iya saya tahu tapi maksudnya bagaimana ini?” Tanya sesepuh.
“ maksud saya begini kami berlima akan pindah dari Balaganjar. Kami akan membuka lahan baru secara sembunyi-sembunyi yang jauh dari pemukiman penduduk, jangan sampai ada seorang penduduk yang mengetahuinya dan kami akan membuka lahan secara berpencar supaya tidak mudah dilacak Belanda.” Ki Ganjar menghentikan ucapannya sedangkan kelima orang lainnya terlihat mengangguk angguk sebagai tanda mengerti dan setuju dengan pendapat Ki Ganjar.
“ Saya memerlukan bantuan Aki.” Sambung Ki Ganjar.
“ Apa yang bisa saya bantu?” balas Ki Sesepuh.
“ Besok kami akan pergi ke Bukit sebelah selatan mudah-mudahan di sana di temukan tempat yang cocok.”
“ Lalu apa tugas saya?” Tanya sesepuh.
“Besok pagi-pagi Aki kumpulkan seluruh penduduk yang ada di Babakan Asih kami akan bilang kepada mereka bahwa kami akan berpamitan dengan begitu semua orang akan mengira bahwa kami telah pulangke kampung halaman. Setelah itu Aki berpura-pura mengantar kami, kita berjalan berputar agar mereka tidak tahu bahwa tujuan kita adalah bukit di sebelah Selatan.”
“ Ya… ya saya mengerti.” Ucap sesepuh.
“ Jadi jika suatu hari ada Belanda datang kemari mencari orang-orang Mataram tidak akan ada orang yang tahu. Hal ini baik sekali untuk keamanan orang-orang di sini. Bukankah hanya Aki seorang yang tahu bahwa kami prajurit Mataram?” Tanya Ki Ganjar.
“ Saya jamin itu, Ki.” Ucap sesepuh meyakinkan Ki Ganjar.
“ Dan sekarang, mungpung hari telah malam, tolong KI Putul dan Ki Bogor membereskan persenjataan perang kita, kalian harus membawanya jauh dari sini untuk disembunyikan kalau perlu dikubur saja biar aman. Sedangkan saya dengan Ki Jaksa dan Ki Dukun akan berkemas barang-barang.”
“ Baik, Ki” jawab Ki Putul dan Ki Bogor.
“ Saya rasa pertemuan ini telah selesai, kami mohonn pamit untuk berkemas dan bersiap-siap.” Ki Ganjar pamit kepada sesepuh.

Malam itu juga Ki Ganjar dan teman-temannya sibuk berkemas. Ki Putul dan Ki Bogor terlihat menyelinap keluar rumah menuju sebuah bukit di sebelah timur dengan membawa peralatan perang yang mereka punyai semisal keris, pedang, tameng, panah, dan tombak. Mereka mengubur benda-benda tersebut di puncak Bukit sebelah timut Balaganjar.
Esok harinya setelah berpamitan kepada penduduk Babakan Asih kelima prajurit Mataram di temani sesepuhh Babakan mendaki bukit di sebelah selatan Balaganjar. Mereka menelusuri setiap tempat mencari lahan yang cocok untuk membuka lahan pertanian yang baru. Ternyata bukit itu cukup luas malahan lebih luas dari luas Balaganjar ditambah Babakan Asih.
“ tempat ini cukup subur pepohonannya tumbuh dengan bagus, daerah ini sangat cocok untuk pesawahan.” Ujar Ki Ganjar.
“ Ya, sangat sayang sekali kalau hanya ditanami singkong atau ganyong.” Ki Bogor menambahkan lalu ia berjongkok mengambil segenggam tanah dikepal-kepalnya dan di ciumnya.
“ Tapi untuk dijadikan pesawahan kita membutuhkan pengairan yang baik.” Jelas Ki ganjar.
“ Mudah-mudahan kita menemukan sumber air disini” kata Ki Jaksa.
“ Saya yakin di sini ada sumber air yang cukup, karena kesuburan sebuah tanah tidak dapat dipisahkan dari keberadaan sebuah air, mereka adalah sepasang sejoli.” Ki Bogor menjelaskan sambil berkelakar.
“ Ah … Ki Bogor bisa saja.” Ujar sesepuh menepuk bahu Ki Bogor, mereka berenam terkekeh ringan.
“ Kita sudah menemukan tanah yang cocok, tugas kita sekarang adalah menemukan sumber air.” Ucap Ki ganjar.

Mereka berenam melanjutkan perjalanan, mereka berjalan terus kearah Tenggara dari tempat mereka berkumpul meneliti tanah. Kurang lebih setengah jam lamanya pencarian akhirnya mereka menemukan sebuah mata air yang cukup besar. Air menyembur dari dalam tanah membentuk kubang seluas kira-kira dua belas meter persegi, dari kubangan tersebut air mengalir menganak sungai kearah barat. Kelima prajurit ditemani sesepuh menelusuri aliran sungai tersebut sambil membersihkan aliran sungai dari semak-semak, sampah dan endapan-endapan lumpur atau gundukan tanah yang menghalangi kelancaran aliran air sungai. Terlihat mereka bekerja begitu bersemangat sambil bernyanyi ringan sekenanya diselingi dengan gurauan-gurauan, samapi disuatu tempat aliran sungai. Itu terlihat aneh. Semestinya aliran besar mengalir searah dengan sungai lajimnya kea rah barat, akan tetapi ini malah sebaliknya sebagia besar aliran air itu berbelok kesebelah utara dan hanya sebagian kecil yang mengalir kearah barat, itula yantg merupaka suatu keanehan.
“Cai kasarung! “ seru sesepuh
“ Heran?”
“ Heran?” seru kelima prajurit mataram.
“Saya baru tahu bahwa du bukit ini ada cai kasarung. Harusnya sungai ini mengalir kearah barat, ini malah belok kea rah utara sedangkan air yang mengalir kea rah Barat justru sedikit ( cai leutik ), Sesepuh terdengar berguman ia tak bisa menyembunyikan keharanannya. Ternyata aliran air tidak terus mengalir mengalir ke Utara tapi melingkar kea rah Timur berlawanan dengan aliran sungai induknya ( cai kasarung ).

Sejak saat itu sungai itu disebut lebak Cikasarung sedangkan aliran sungai yang berbelok ke kanan lalu melingkar ke arah Timur disebut lebak eran – di ambil dari kata heran dan aliran sungai yang terus mengalir ke arah Barat disebut lebak cileutik.

Akhirnya ki Ganjar memutuskan bahwa ia akan membuka pesawahan di tempat pertama kali mereka meneliti tanah sedangkan ia akan menetap di sebrang ( peuntas ) sebelah Utara sawah garapannya tepatnya dipuncak bukit sebelah selatan Balaganjar.
Dengan tujuan agar ia dapat memantau kedatangan Belanda bila sewaktu – waktu ke Balaganjar. Di tempat Kiganjar memebuka pesawahan itulah berdiri balai Kelurahan Cikasarung sekarang ini sedangkan sawah yang digarap di seberangnya disebut swah peuntas.

Ki Jaksa membuat saung tempat tinggalnya di pinggiran Sungai Cikasarung agak ke hulu sebelah teenggara sawah garapan Ki Ganjar dengan tugas menjaga mata air kelak yang menjadi sumber air sungai Cikasarung. Sampai sekarang sawah garapannya itu disebut Sawah Jaksa.

Ki Putul berdiam tepat di belokan sungai Cikasarung, Eran dan Cileutik, ia bertugas mengolah tanah merah(beureum) di sekitarnya. Dan sawah garapannya disebut Sawah Keusik dan Sawah Beurem.

Sedangkan Ki Dukun ditugaskan untuk membuka huma-sawah tadah hujan agar jauh dari aliran sungai yaitu sebelah barat sawah peuntas. Di tempat tersebut Ki Dukun mulai ngabeubeura (membuka ladang) itulah terdapat sawah Bebera dan Bebera Kiai sekarang ini. Selain itu menemukan sungai kecil yang berhulu di rumpun bambu Tamiang, maka daerah itu dinamakan Lebak Tamiang. Adapun tempat ia membangun saung tempat tinggalnya disebut leuweung Aki Dukun, tepatnya saung itu didirikan cukup jauh dari ladang pertama yang ia buka sebelumnya.

Lain lagi dengan Ki Bogor ditempatkan diujung Barat Kelurahan Cikasarung saat ini lebih jauh dari Ki Dukun. Ki Bogor ditugaskan untuk membuka perkebunan di hutan tersebut seperti kebun singkong, talas, ganyong dan buah-buahan. Di samping berhuma hanya Ki Dukun selain itu Ki Bogor pun bertugas untuk menjaga dan memelihara pepohonan seperti jati, kihujan, jengjing, kihiang dan lain-lainnya yang berada di hutan tersebut. Di sebelah utara, ditempat tinggalnya ia menemukan sebuah mata air, Ki bogor pun membendungnnya sehingga menjadi sebuah sumur disebutlah mata air itu dengan sebutan sumur bendung, namun karena latahnya lidah orang-orang saat ini penduduk cikasarung menyebutnya sumur bandung dan Ki Bogor juga menemukan mata air yang keluar dari semak-semak pohon dadap maka diberi nama lah daerah sekitarnya dengan sebutan Cidadap.

Keahlian kelima prajurit mataram itu dalam hal bertani memang sangat mengagumkan sampai sekarang tempat-tempat tersebut menjadi lahan-lahan pertanian yang produktif di Kelurahan Cikasarung terutama sawah jaksa, sawah pentas, sawah kesik dan sawah balaganjar. Sedangkan daerah lingkungan sungai Cikasarung dengan sungai eran menjadi pusat Kelurahan Cikasarung.

Namun akhir dari keberadaan kelima prajurit mataram tersebut tidak diketahui dengan jelas ada yang beranggapan bahwa mereka ngahiang menghilang begitu saja tanpa bekas dikarenakan kesaktian mereka yang sangat tinggi ada juga yang beranggapan bahwa mereka pergi ke Batavia bergabung dengan pasukan mataram untuk berperang melawan penjajah Belanda. Untuk menghormati jasa-jasa mereka penduduk terus memelihara peninggalan-peninggalan mereka berupa sawah, ladang dan kebun dengan cara menggarapnya dengan baik, juga memelihara mata air-mata air dan saluran irigasi yang mereka buat. Umumnya masyarakat pedesaan mereka pun membuat peti patilasan-patilasan yang disebut buyut di atas saung-saung tempat ke lima prajurit Mataram tersebut menetap, seperti: Buyut Ganjar, Buyut Jaksa, Buyut Putul, Buyut Aki Dukun dan Buyut Bogor. Adapun tempat dikuburnya senjata-senjata pusaka mereka disebut buyut kramat dan tempat tinggal orang yang diberi tugas untuk menjaga setiap (saban) matahari tenggelam sampai matahari terbit disebut Buyut Saban.

Begitulah berita asal mula Kelurahan Cikasarung lazimnya sebuah legenda kebenaran ceritanya sangat sulit dibuktikan.

Kerajaan Sindangkasih di Majalengka, benarkah ada?
Beberapa waktu yang lalu, saya membaca sebuah buku yang cukup menarik. Sebenarnya buku tersebut merupakan terbitan lama, sebaya dengan umur saya sekarang. Faktor keterbatasan dan ketidaktahuanlah yang menyebabkan saya baru bisa menemukan dan membaca buku tersebut setelah beberapa lama. Buku tersebut ditulis oleh seorang kelahiran Cirebon, sekitar tahun 1983. buku tersebut bercerita tentang sejarah Kerajaan Cerbon (buku tersebut menyebutnya demikian), terutama pasca Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah memimpin kerajaan tersebut.

Dalam buku Kerajaan Cerbon tersebut diceritakan beberapa hal yang mungkin menurut saya bisa merubah sejarah atau bahkan menghilangkan sama sekali Kerajaan Sindangkasih yang konon pernah ada di Majalengka.

Dari beberapa informasi yang saya dapat sebelumnya, bahwa pada zaman sebelum Islam masuk ke Majalengka, terdapat sebuah kerajaan bernama Sindangkasih yang berada di daerah Sindangkasih, Majalengka dan dipimpin oleh ratu bernama Nyi Rambut Kasih. Entah benar atau tidak, yang jelas bila kita mengakses situs Bappeda-Majalengka maka akan diceritakan kisah keberadaan kerajaan tersebut, sama seperti yang saya terima selama 15 tahun terakhir. Ringkasnya keberadaan Kerajaan Sindangkasih tersebut lalu kalah oleh pengaruh Islam dari Kerajaan Cerbon.

Yang menjadi pertanyaan setelah saya membaca buku tersebut ialah, penulis yaitu Unang Sunardjo, S.H menyangkal bahwa Kerajaan Sindangkasih tersebut berada di daerah Majalengka, tetapi terletak di daerah yang namanya sama Sindangkasih di daerah Kecamatan Beber, Kabupaten Cirebon. Menurut buku tersebut, daerah Sindangkasih merupakan hadiah dari ayah Nhay Ambet Kasih (mungkin Nyi Rambut Kasih), yaitu Ki Gedeng Sedhang Kasih setelah Nhay Ambet Kasih menikah dengan Raden Pamanah Rasa, yang kelak dikenal dengan nama Prabu Siliwangi. Sindang Kasih tersebut tak lebih merupakan bagian dari Nagari Surantaka pimpinan Ki Gedeng Sedhang Kasih, yang merupakan pecahan dari daerah otonom di bawah Kerajaan Galuh yang bernama Wanagiri Besar. Karena sesuatu hal, Wanagiri Besar tersebut, menjadi pecah dan terbagi dalam beberapa nagari, termasuk Nagari Surantaka.

Tentunya patut ditelusuri kebenaran pendapat tersebut, karena saya pribadi merasa bahwa pelurusan sejarah merupakan hal penting. Meski telah beribu-ribu tahun ditelan masa, tetapi pelurusan sejarah menjadi perlu ketika kebutuhan untuk menyadari identitas diri menjadi sangat urgen.

Meski tidak sepenuhnya menyalahkan pendapat tersebut, tetapi bila ditanyakan argumen untuk mendukung kebenaran bahwa Kerajaan Sindangkasih memang benar-benar di daerah Majalengka, saya juga kebingungan untuk mencari bukti. Tidak ada patilasan atau dokumen-dokumen sejarah yang mendukung keberadaan Kerajaan Sindangkasih di Majalengka tersebut. Setidaknya sampai sekarang saya belum menemukan dan berhasil mengetahui sisa-sisa peradaban Kerajaan Sindangkasih di Majalengka. Lebih lanjut, buku tersebut hanya mengakui keberadaan Kerajaan Talaga Manggung (yang berpusat di Kec. Talaga sekarang), yang kemudian juga tertundukkan oleh Kerajaan Islam Cerbon. Di Majalengka sendiri, sepertinya pada waktu itu belum ada peradaban, karena tidak pernah disinggung sama sekali hubungan diplomatik atau sejenisnya dengan Kerajaan Cerbon. Kalaupun ada, hanya daerah Rajagaluh yang pernah disebutkan sebagai salah satu daerah ”sampingan” dari Kerajaan Cerbon.

Sehingga mana yang benar dan mana yang salah, belum dapat saya ketahui. Satu hal yang pasti, kita memerlukan argumen sejarah dan dokumen peninggalan yang tersisa untuk membuktikan bahwa memang pernah berdiri Kerajaan Sindangkasih di Majalengka. Tugas siapa?, tentunya kita semua untuk lebih mengenal cikal-bakal peradaban dan nenek moyang kita sendiri. Bersediakah kita?.

2 komentar:



antoniocarista mengatakan...

wahh hbt eumm kpn2 muatin sjrh sdwngi donklm knl dr antoniocarista@yahoo.co.id sanjukana.blogspot.com 085224880902

nandafebrian mengatakan...

wow hebats....blognya kmu orang mna ea,,,sya dri lemahputih,,,minta allmat fbnya dong....

Poskan Komentar